- Biaya transit dalam Rial: Setiap kapal dagang yang melintas wajib membayar biaya transit menggunakan mata uang nasional Iran, Rial, sebagai upaya melawan dominasi dolar.
- Blokade total: Larangan transit bagi seluruh kapal yang berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel.
- Pembatasan sekutu: Negara-negara yang ikut serta dalam sanksi sepihak terhadap Iran juga akan menghadapi pembatasan navigasi yang ketat.
IRGC: Selat Hormuz Tidak Akan Pernah Sama Lagi bagi AS dan Israel

IRGC menyatakan aturan baru di Selat Hormuz pascaserangan AS-Israel, menandai perubahan besar dalam kontrol strategis kawasan tersebut.
Iran memberlakukan biaya transit dalam Rial dan melarang kapal terkait AS-Israel, memperkuat kedaulatan ekonomi serta militernya di jalur vital itu.
Ketegangan meningkat setelah ultimatum Trump dan ancaman balasan Iran, memicu lonjakan harga energi serta gangguan logistik global.
Jakarta, IDN Times - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan pernyataan keras pada Senin (6/4/2026).
Melansir laporan Al Jazeera dan Anadolu Agency, Teheran secara resmi mendeklarasikan bahwa aturan main di Selat Hormuz telah berubah total dan tidak akan pernah kembali ke status sebelumnya, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel.
1. Deklarasi "Tatanan Baru" di Teluk Persia

Melalui pernyataan resmi di platform X, Komando Angkatan Laut IRGC menegaskan bahwa mereka sedang dalam tahap akhir persiapan operasional untuk apa yang disebut sebagai "Tatanan Baru Teluk Persia".
Langkah radikal ini merupakan respons langsung terhadap agresi gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sejak tragedi tersebut, Iran telah bersumpah untuk mengusir "aktor-aktor bermusuhan" dari jalur perairan paling strategis di dunia tersebut.
2. Penerapan "pajak transit" dan kedaulatan Rial
Bukan sekadar gertakan militer, laporan dari Anadolu Agency menyebutkan bahwa Parlemen Iran telah menyetujui draf undang-undang yang memberikan wewenang penuh kepada militer untuk mengontrol lalu lintas kapal. Poin-poin utama dalam draf tersebut meliputi:
3. Respons ultimatum 48 jam Trump

Pernyataan IRGC ini muncul hanya beberapa jam sebelum berakhirnya ultimatum 48 jam yang dikeluarkan Presiden Donald Trump. Trump, melalui Truth Social, mengancam akan membom pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka hari ini, Senin (6/4).
"Buka selat itu, atau kalian akan hidup dalam neraka, lihat saja!" tulis Trump dalam unggahan yang penuh dengan kata-kata kasar. Trump bahkan mengancam akan mengambil alih kendali ladang minyak Iran jika kesepakatan tidak tercapai hari ini.
4. Ancaman balasan yang "menghancurkan"

Menanggapi ancaman Trump, juru bicara kementerian luar negeri Iran dan komando militer pusat (Khatam al-Anbiya) menegaskan bahwa mereka siap membalas dengan serangan yang "jauh lebih menghancurkan." Iran memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur sipil mereka akan dibalas dengan serangan serupa terhadap aset-aset Amerika Serikat di seluruh kawasan Teluk.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, menambahkan bahwa langkah ceroboh Trump hanya akan menyeret seluruh kawasan ke dalam api peperangan yang tidak akan bisa dipadamkan dengan mudah.
5. Dampak global dankelumpuhan jalur logistik

Blokade Selat Hormuz bukan hanya masalah militer, melainkan ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi global. Gangguan pada jalur minyak ini telah menyebabkan harga energi melonjak drastis dan mengganggu rute penerbangan serta logistik internasional secara masif.
Armada laut IRGC dilaporkan telah menempati posisi tempur di titik-titik sempit Selat Hormuz, sementara pasukan AS dan sekutunya di kawasan tersebut berada dalam status siaga tertinggi (Defcon).
Krisis minyak mentah bukan cuma masalah harga bensin, melainkan karena minyak adalah bahan baku utama untuk hampir semua hal mulai dari plastik, deterjen, pupuk, sampai serat baju sintetis. Efek dominonya bakal merembet ke segala arah, bikin harga sabun, makanan kemasan, baju, ongkos kirim, sampai biaya medis ikutan naik karena biaya produksi dan logistiknya otomatis membengkak.
Singkatnya, krisis ini jadi semacam "pajak tersembunyi" bagi ekonomi global yang bikin hampir semua barang kebutuhan hidup sehari-hari jadi lebih mahal karena semuanya punya unsur minyak di dalamnya.


















