Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Indonesia Economic Summit 2026 di Hotel Shangri-La, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Indonesia Economic Summit 2026 di Hotel Shangri-La, Jakarta. (IDN Times/Triyan).

Intinya sih...

  • IHSG beranjak ke zona hijau setelah net inflow asing senilai Rp600 miliar

  • Airlangga tekankan pentingnya reformasi pasar modal dengan peningkatan batas minimum saham yang beredar di publik

  • Dampak MSCI memberi tekanan besar, perlu segera reformasi regulasi dan membangun resiliensi keuangan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan penguatan pada Selasa (3/2/2026). Kondisi ini pun ditopang oleh masuknya aliran dana asing ke pasar modal domestik. Setelah dua pekan terakhir mengalami arus keluar (net outflow), pasar kembali mencatat arus masuk bersih (net inflow) senilai ratusan miliar rupiah.

“Kalau kemarin kita lihat, lebih dari Rp600 miliar merupakan net inflow asing,” ujar Airlangga usai acara Indonesia Economic Summit di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

1. IHSG sudah beranjak ke zona hijau

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Indonesia Economic Summit 2026 di Hotel Shangri-La, Jakarta. (IDN Times/Triyan).

Airlangga menambahkan, dalam dua minggu terakhir pasar memang mencatat net outflow, namun sejak sehari sebelumnya kembali terjadi net inflow, yang turut mendorong IHSG bergerak di zona hijau.

Kendati demikian, ia menegaskan pemerintah memantau pergerakan pasar berdasarkan fundamental ekonomi, bukan berspekulasi terhadap arah pergerakan saham jangka pendek.

Bila mengacu data RTI pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG kembali menembus level 8.000. Pada penutupan sesi pertama hari ini, indeks saham naik 1,57 persen ke 8.047. Rinciannya, transaksi saham mencapai Rp17,66 triliun dengan volume perdagangan tembus 38 miliar lembar saham. Sementara frekuensi transaksi sebanyak 1,98 juta kali. Sepanjang sesi pertama perdagangan, sebanyak 592 saham naik, 158 melemah, sedangkan 67 lainnya stagnan.

2. Airlangga tekankan pentingnya reformasi pasar modal

Ilustrasi IHSG. (IDN Times/Aditya Pratama)

Lebih lanjut, Airlangga menekankan pentingnya reformasi pasar modal yang tengah disiapkan pemerintah. Salah satu langkah utama adalah peningkatan batas minimum saham yang beredar di publik (free float) dari sebelumnya 7,5 persen atau 10 persen menjadi 15 persen.

Selain itu, aturan keterbukaan kepemilikan saham juga akan diperketat dengan menurunkan ambang batas pengungkapan kepemilikan dari 5 persen menjadi 1 persen.

“Di atas 1 persen harus diungkapkan, termasuk ultimate beneficial owner-nya. Ini sebenarnya mudah karena di KSEI sudah tersedia secara digital, tinggal dilanjutkan pengungkapannya,” jelas Airlangga.

Pemerintah juga membuka peluang yang lebih luas bagi dana pensiun untuk berinvestasi di pasar saham, khususnya pada saham-saham berkualitas, sebagai bagian dari upaya memperdalam pasar serta memperkuat basis investor domestik.

3. Dampak MSCI beri tekanan besar, perlu segera reformasi regulasi

Ilustrasi IHSG. (IDN Times/Aditya Pratama)

Pendiri dan Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja K menjelaskan, MSCI Effect yang baru-baru ini mengguncang pasar saham Indonesia menjadi sorotan global. Penurunan bobot Indonesia dalam Indeks MSCI, yang selama ini menjadi tolok ukur bagi investor institusional internasional, memicu arus keluar modal yang besar dan merugikan hingga 80 miliar dolar AS.

"Dampaknya terasa signifikan tidak hanya pada fluktuasi harga saham dan penurunan likuiditas, tetapi juga pada persepsi global mengenai kredibilitas dan daya saing pasar keuangan Indonesia," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (2/2/2026).

Peristiwa ini menjadi cermin betapa rentannya ekosistem keuangan nasional terhadap dinamika global. Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia kini adalah membangun resiliensi dan mengelola manajemen krisis dengan lebih efektif agar citra dan reputasi negara segera pulih, bahkan semakin kokoh di mata dunia.

Menurut Ardi , resiliensi keuangan bukan sekedar kemampuan bertahan di tengah tekanan, melainkan juga kesiapan untuk beradaptasi dan melakukan transformasi demi memperkuat fondasi pasar. Pemerintah bersama otoritas pasar modal dan pelaku industri keuangan harus segera berbenah dengan memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, serta memastikan perlindungan investor yang memadai.

"Reformasi regulasi dan penegakan hukum yang konsisten menjadi kunci agar Indonesia mampu meredam kepanikan dan mengembalikan kepercayaan investor," ujarnya.

Selain itu, digitalisasi dan inovasi di sektor keuangan harus terus didorong untuk meningkatkan efisiensi, memperluas akses, dan memperkuat daya saing Indonesia di ranah global. Langkah-langkah ini perlu dibarengi dengan edukasi publik yang masif agar masyarakat dan pelaku pasar memahami risiko serta peluang yang ada, sehingga tercipta ekosistem investasi yang sehat dan berkelanjutan.

Editorial Team