Ilustrasi IHSG. (IDN Times/Aditya Pratama)
Pendiri dan Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja K menjelaskan, MSCI Effect yang baru-baru ini mengguncang pasar saham Indonesia menjadi sorotan global. Penurunan bobot Indonesia dalam Indeks MSCI, yang selama ini menjadi tolok ukur bagi investor institusional internasional, memicu arus keluar modal yang besar dan merugikan hingga 80 miliar dolar AS.
"Dampaknya terasa signifikan tidak hanya pada fluktuasi harga saham dan penurunan likuiditas, tetapi juga pada persepsi global mengenai kredibilitas dan daya saing pasar keuangan Indonesia," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (2/2/2026).
Peristiwa ini menjadi cermin betapa rentannya ekosistem keuangan nasional terhadap dinamika global. Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia kini adalah membangun resiliensi dan mengelola manajemen krisis dengan lebih efektif agar citra dan reputasi negara segera pulih, bahkan semakin kokoh di mata dunia.
Menurut Ardi , resiliensi keuangan bukan sekedar kemampuan bertahan di tengah tekanan, melainkan juga kesiapan untuk beradaptasi dan melakukan transformasi demi memperkuat fondasi pasar. Pemerintah bersama otoritas pasar modal dan pelaku industri keuangan harus segera berbenah dengan memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, serta memastikan perlindungan investor yang memadai.
"Reformasi regulasi dan penegakan hukum yang konsisten menjadi kunci agar Indonesia mampu meredam kepanikan dan mengembalikan kepercayaan investor," ujarnya.
Selain itu, digitalisasi dan inovasi di sektor keuangan harus terus didorong untuk meningkatkan efisiensi, memperluas akses, dan memperkuat daya saing Indonesia di ranah global. Langkah-langkah ini perlu dibarengi dengan edukasi publik yang masif agar masyarakat dan pelaku pasar memahami risiko serta peluang yang ada, sehingga tercipta ekosistem investasi yang sehat dan berkelanjutan.