Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Direktur Utama BEI, Iman Rachman (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Direktur Utama BEI, Iman Rachman (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Intinya sih...

  • Investor melakukan panic selling akibat pengumuman MSCI.

  • BEI terancam turun peringkat menjadi Frontier Market.

  • MSCI umumkan pembekuan sementara indeks saham-saham Indonesia.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman mengatakan rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini tidak lepas dari pengumuman MSCI terkait metodologi perhitungan free float saham-saham Indonesia.

Meski begitu, Iman menyatakan kondisi IHSG hari ini bukanlah skenario terburuk mengingat pihaknya masih bernegosiasi dengan MSCI.

"Jadi diskusi itu kita terus lakukan. Artinya tidak berhenti minggu lalu. Terus kami lakukan sehingga apa yang mungkin menjadi requirement dari metodologi MSCI, InsyaAllah bisa dipenuhi dengan data yang ada di KSEI," kata Iman di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

1. Ada panic selling dari investor

ilustrasi IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)

Adapun aksi jual investor ritel panik akibat pengumuman MSCI membuat IHSG tumbang hari ini. Kepanikan itu muncul lantaran selain soal perubahan metodologi free float, MSCI juga membekukan rebalancing saham Indonesia per Februari mendatang. Pembekuan tersebut bakal berlaku hingga Mei 2026.

"Apa yang terjadi hari ini memang ada menurut saya panic selling karena dua hal yang disampaikan yang jadi concern adalah pertama untuk di bulan Februari rebalancing-nya di-freeze. Jadi kalau kita terjemahkan apa yang disampaikan tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen perusahaan tercatat kita di MSCI," kata Iman.

2. BEI terancam turun peringkat menjadi Frontier Market

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Selain itu, MSCI berpotensi menurunkan peringat BEI menjadi Frontier Market dari posisi sebelumnya di Emerging Market. Hal itu bisa terjadi jika BEI tidak kunjung melakukan perbaikan hingga Mei mendatang.

"Artinya kita mungkin sejajar dengan Vietnam dan Filipina. Sementara kalau kita sekarang kan di emerging market sama dengan Malaysia," kata Iman.

3. MSCI umumkan pembekuan sementara indeks saham-saham Indonesia

Ilustrasi MSCI (Dok MSCI)

Dalam pengumuman terbarunya, MSCI menyampaikan pembekuan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham Indonesia, menyusul kekhawatiran atas isu free float dan aksesibilitas pasar.

Dalam pengumuman yang dirilis Selasa (27/1/2026) malam waktu GMT, MSCI menyatakan telah menyelesaikan konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia. Kendati terdapat sejumlah perbaikan minor dari BEI, MSCI menilai langkah tersebut belum cukup untuk menjawab kekhawatiran investor global.

Sebagai langkah mitigasi risiko, MSCI menerapkan interim freeze yang berlaku segera. Kebijakan ini mencakup pembekuan seluruh kenaikan bobot saham Indonesia, penghentian penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI, serta tidak adanya kenaikan kelas saham Indonesia di seluruh segmen indeks.

"Langkah ini diambil untuk membatasi risiko turnover indeks dan menjaga aspek invest stability," tulis MSCI dalam keterangannya, dikutip Rabu (28/1/2026).

MSCI juga membuka kemungkinan langkah lanjutan yang lebih ekstrem apabila tidak ada perbaikan signifikan dalam aspek transparansi dan akses pasar. Opsi tersebut mencakup pengurangan bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets hingga potensi reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Editorial Team