Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa MSCI Bisa Bikin IHSG Anjlok 7 Persen?

ilustrasi IHSG (IDN Times/Muhammad Surya)
ilustrasi IHSG (IDN Times/Muhammad Surya)
Intinya sih...
  • Nafan mengatakan, pengumuman MSCI memunculkan kekhawatiran pasar terkait risiko perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
  • Stabilitas pasar membutuhkan koordinasi antara BEI, OJK, dan MSCI. Fundamental makroekonomi domestik masih solid, sehingga pelemahan IHSG dapat dimanfaatkan pelaku pasar.
  • Sebelum pengumuman MSCI, IHSG berada dalam tren naik. Namun, dinamika pengumuman membuat tren tersebut tertekan dan memengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menyampaikan tekanan di pasar saham domestik usai pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) berkaitan dengan penilaian free float sekuritas di pasar modal Indonesia.

Dia menilai, secara umum free float sejumlah emiten di Tanah Air masih belum sepenuhnya memenuhi kualifikasi yang ditetapkan MSCI, seiring adanya perbedaan standar penilaian antara MSCI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

"Jadi ya kalau misalnya jika terjadi perbedaan kan berarti kan investor menuntut transparansi. Ya investor global juga menuntut ya transparansi. Apalagi transparansi dalam struktur kepemilikan saham," kata dia pada Rabu (28/1/2026).

Dia menyebut, peningkatan free float perlu diiringi dengan naiknya tingkat partisipasi publik di emiten, sementara saat ini porsi kepemilikan publik pada banyak perusahaan tercatat masih relatif kecil.

1. Isu MSCI dan risiko perubahan status pasar

Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Nafan mengatakan, pengumuman MSCI tersebut dinilai wajar memunculkan kekhawatiran pasar, mengingat adanya risiko perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Dia menjelaskan, status Frontier Market umumnya mencerminkan risiko yang lebih tinggi dan tingkat likuiditas yang lebih rendah. Dalam kondisi tersebut, dia menilai potensi arus keluar modal menjadi hal yang tidak terhindarkan.

"Kalau Frontier Market itu ya menunjukkan risikonya tinggi. Likuiditasnya jadi lebih rendah. Ya, wajar saja ketika pengumuman MSCI berlaku ya capital outflow memang terjadi," kata Nafan.

2. Koordinasi otoritas perlu untuk redam sentimen

Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Nafan menilai stabilitas pasar ke depan membutuhkan koordinasi antara Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan MSCI. Dia menyampaikan MSCI akan terus memantau perkembangan pasar modal Indonesia.

"Kalau ingin semakin kondusif ke depan nih misalnya untuk IHSG kita nih misalnya kan, ya perlu adanya koordinasi," paparnya.

Di sisi lain, Nafan menilai fundamental makroekonomi domestik masih tergolong solid, sehingga pelemahan IHSG yang terjadi dapat dimanfaatkan pelaku pasar untuk masuk di harga saham yang dinilai lebih rendah.

3. Tekanan bukan berasal dari faktor teknikal

Jurnalis mengambil gambar layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Jurnalis mengambil gambar layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Dari sisi teknikal, Nafan menyampaikan sebelum adanya pengumuman MSCI, pergerakan IHSG masih berada dalam tren naik. Hal itu terlihat dari posisi indeks yang masih bergerak di atas rata-rata pergerakan MA20 dan MA60. Namun, dia menyatakan dinamika pengumuman MSCI membuat tren tersebut mulai tertekan dan memengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

"Ya, tadi sentimennya memang sebenarnya bukan ke teknikal analis ya. Kalau saya kan kalau lihat dari technical chart sebenarnya tuh pergerakan IHSG itu sejauh ini ya, ketika belum terdapat pengumuman MSCI, itu masih dalam kategori uptrend," ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in Business

See More

IHSG Ambrol 8 Persen, Istana Berdoa Kembali Rebound

28 Jan 2026, 15:10 WIBBusiness