Permintaan tembaga global diperkirakan meningkat hingga 50 persen pada 2040, didorong oleh ekspansi pusat data AI di seluruh dunia. Namun, pertumbuhan pasokan dinilai berpotensi tertinggal, sehingga memicu persaingan ketat antar perusahaan tambang dan industri teknologi.
Satu pusat data berskala besar membutuhkan ribuan hingga puluhan ribu ton tembaga untuk membangun kabel listrik, transformator, busbar, dan sistem pendingin prosesor. Meski demikian, pasokan dari proyek Nuton di Arizona oleh Rio Tinto hanya mencakup sebagian kecil dari kebutuhan satu pusat data besar, menggambarkan besarnya skala permintaan infrastruktur AI global.
Harga tembaga di London Metal Exchange (LME) telah melonjak sekitar 40 persen dalam setahun terakhir, melampaui 13 ribu dolar AS (Rp219,2 juta) per ton metrik seiring meningkatnya kebutuhan material konduktor tersebut dalam industri digital dan energi.
"Kami bekerja pada tingkat komoditas untuk menemukan solusi rendah karbon yang dapat mendorong pertumbuhan bisnis kami. Itu mencakup baja, beton, dan tentu saja tembaga yang sangat penting bagi pusat data kami," kata Chris Roe, direktur karbon global Amazon, dilansir Bloomberg.
Tembaga memiliki peran krusial karena konduktivitas listriknya yang tinggi, menjadikannya material utama dalam jaringan listrik, kendaraan listrik, dan transisi energi global menuju sistem yang lebih berkelanjutan.