TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Lewat Semangat Kesetaraan, Bisnis Kopi Kito Rato Menuai Untung Besar

Omzet Kito Rato kini mencapai puluhan juga

Founder Kito Rato, Saldi Rahman. (IDN Times/Indiana Malia)

Jakarta, IDN Times - "Kito Rato. Kita semua sama rata. Setara." Pesan itulah yang ingin disampaikan Saldi Rahman, 23, saat merintis bisnis kedai kopi Kito Rato. Bersama dua kawan sesama penyandang disabilitas tuna daksa, Wahyu Alistia, 25, dan Rendi Agustra, 24, kedai kopi itu mulai mengepakkan sayap di industri minuman kekinian.

"Kami mau buktikan kalau penyandang disabilitas itu bisa bekerja dan berkarya, sama seperti manusia lainnya," kata Saldi saat ditemui IDN Times di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Selasa (3/12).

1. Saldi dan kedua kawannya dipertemukan di Cibinong

IDN Times/Indiana Malia

Saldi menuturkan mereka dipertemukan di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) Cibinong. Saat itu, mereka mengikuti program BRAVE, Because eveRyone is Able and creatiVE, dari PT Bank Permata. Selama 10 bulan, mereka menerima pelatihan berbagai keterampilan, termasuk pembentukan karakter, literasi keuangan dan perbankan, kewirausahaan, serta kesiapan kerja.

"Kemudian, kami disalurkan di sebuah perusahaan. Setelah pengalaman kerja cukup, kami memutuskan resign dan mulai bisnis kopi keliling. Kito Rato berdiri pada September 2019," ujarnya.

2. Belajar jadi barista otodidak dari YouTube

Founder Kito Rato, Saldi Rahman. (IDN Times/Indiana Malia)

Saldi sempat mencicipi pendidikan Tata Boga di tanah kelahirannya, Payakumbuh, Sumatera Barat. Namun, ia mengaku tak punya bakat khusus untuk bisa membuat kopi. Ia berlatih jadi barista secara otodidak lewat YouTube.

"Ya belajar dari YouTube saja. Kami pilih jenis kopi gayo," ujar Saldi.

Hingga saat ini, Kito Rato memproduksi beberapa kopi kekinian, yaitu ice kopi susu gula aren, ice blend, ice yakult, dan moctail. Ia membeli biji kopi dari supplier khusus dari Gunung Puntang, Gunung Halu, dan Saronggeh Cianjur.

"Untuk kopi susu kami gunakan kopi gayo house blend, 70 persen arabica dan 30 persen robusta," jelasnya.

3. Kedai kopi Kito Rato berkonsep food truck

IDN Times/Indiana Malia

Berbeda dengan kedai kopi lainnya, Kito Rato mengusung konsep food truck. Kedai minuman dalam mobil itu biasa mangkal di kawasan Ruko Granada BSD Serpong, Tangerang Selatan.

Untuk modal awal, Saldi bersama kawan-kawannya merogoh kocek Rp15 juta untuk membeli peralatan kopi. Uang itu mereka kumpulkan saat masih bekerja di perusahaan lama. Sementara, mobil keliling didapatkan dari seseorang yang berbaik hati meminjamkan mobilnya.

"Ada orang baik kasih pinjam mobil itu, karena gak kepakai," ungkapnya.

Baca Juga: Mau Bisnis Kopi, Pelajari Dulu Hal ini ya Guys!

4. Omzet Kito Rato mencapai puluhan juta dalam sebulan

Es kopi Kito Rato. (IDN Times/Indiana Malia)

Selain mangkal di BSD Serpong, Kito Rato juga kerap mengikuti event atau bazaar makanan. Jika tak ada event, dalam sehari Kito Rato bisa menjual 80-100 gelas kopi. Harga semua jenis minuman dibandrol sama rata, yaitu Rp10 ribu.

"Kalau ada event, harga kopi per gelas jadi Rp15 ribu. Per event kami bisa jual 500-an gelas," kata Saldi.

5. Kito Rato ingin menggandeng lebih banyak penyandang disabilitas

IDN Times/Indiana Malia

Kini, pegawai Kito Rato berjumlah 6 orang. Tak puas mangkal di BSD Serpong, Kito Rato baru saja meresmikan cabang baru di Ciater, Jawa Barat pada 24 November 2019 lalu. Saldi ingin menggandeng lebih banyak lagi teman-teman disabilitas.

"Kami ingin teman-teman yang mau wirausaha bisa gabung. Kami berdayakan, kami beri pelatihan. Kalau mereka mau terjun lapangan, kami modalin sampai bisa mandiri," tuturnya.

6. Saldi mendorong para penyandang disabilitas untuk tetap percaya diri

Founder Kito Rato, Saldi Rahman. (IDN Times/Indiana Malia)

Saldi mengatakan, tidak ada yang tidak mungkin bisa dilakukan bila memiliki semangat dan cita-cita yang kuat. Ia lantas mendorong para penyandang disabilitas untuk tetap percaya diri dan mengikuti berbagai pelatihan yang bisa mendukung keahlian mereka.

"Kito Rato menjadi ajang pembuktian bahwa penyandang disabilitas seperti kami bisa mandiri, berprestasi, bahkan mampu berwirausaha seperti anak muda lainnya. Kami ingin menginspirasi mereka, karena banyak penyandang disabilitas yang diam di rumah, belum bisa berdamai dengan diri sendiri," kata Saldi.

Baca Juga: 8 Rekomendasi Kedai Kopi Hits di Jakarta, Sudah Coba yang Mana?

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya