TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Melawan Balik! Rupiah Menguat ke Rp15.735 per Dolar AS Pagi Ini

Rupiah menguat 7,5 poin

Ilustrasi. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah menguat tipis terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan pagi ini, Rabu (30/11/2022).

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah menguat 7,5 poin atau 0,05 persen ke level Rp15.735 per dolar AS pada pembukaan perdagangan. Posisi pagi ini membalikkan keadaan dari penutupan perdagangan Selasa (29/11/2022), di mana kurs rupiah melemah sebanyak 20,5 poin atau 0,13 persen ke Rp15.742,5 per dolar AS.

Namun pergerakan rupiah masih fluktuatif. Pada pukul 09.20 WIB, mata uang Garuda sedikit mengalami pelemahan terhadap mata uang Negara Paman Sam, yakni sebanyak 1,5 poin atau 0,01 persen ke Rp15.744 per dolar AS.

Baca Juga: Sentimen The Fed Bikin Rupiah Tersungkur ke Rp15.742,5 Sore Ini

Baca Juga: Ini 4 Mata Uang Paling Berpengaruh di Dunia, Ada Rupiah? 

1. Pengumuman pemerintah China jadi angin segar bagi rupiah

Analis DCFX Futures, Lukman Leong menilai setelah pemerintah China mengumumkan vaksin pada lansia akan membuat rupiah menguat. Sebab, pengumuman pemerintah China menjadi sinyal kebijakan Zero COVID-19 di negara tersebut akan mulai dilonggarkan.

"Memberikan sinyal apabila mereka akan mulai melonggarkan kebijakan Zero COVID policy," tutur Lukman.

Namun, menurut Analis PT Sinarmas Futures, Ariston Tjendra pelemahan rupiah masih bisa terjadi apabila demo kembali terjadi di China.

Baca Juga: Peringatan Hari Keuangan Nasional, Menilik Sejarah Mata Uang Indonesia

2. Ada berbagai faktor yang bisa melemahkan rupiah

Di sisi lain, Lukman menilai penguatan rupiah mungkin akan terbatas mengingat sentimen internal yang masih negatif seputar kekhawatiran perlambatan ekonomi dengan investor yang masih terus melepas atau menghindari Surat Berharga Negara (SBN).

Sementara Ariston berpendapat bahwa rupiah masih bisa melemah hari ini karena berbagai sentimen di pasar.

"Faktor-faktor pelemahan rupiah kemarin seperti demo di China, indikasi kenaikan permintaan dolar di tanah air untuk keperluan korporasi dan sikap Bank Sentral AS yang mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi, juga masih ada," ujarnya.

Ditambahkan Ariston, pasar juga masih menunggu indikasi kebijakan suku bunga AS ke depan dari pidato Gubernur the Fed Jerome Powell mengenai outlook ekonomi pada dini hari nanti.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya