Ilustrasi tambang (pexels.com/PPPS CZ)
Ambisi Arab Saudi menarik perhatian AS. Selama ini, AS diketahui mengekspor logam tanah jarang berat ke China untuk proses pemurnian. Namun, China memperketat kontrol ekspor mineral tersebut pada tahun lalu, terutama yang memiliki kegunaan militer.
Pada kunjungan kenegaraan ke Washington pada November 2025 lalu, Arab Saudi mengumumkan rencana investasi hingga hampir 1 triliun dolar AS di sektor infrastruktur, teknologi, dan industri AS. Salah satu kesepakatan mencakup kolaborasi bilateral di sektor mineral, termasuk rencana pembangunan fasilitas pemurnian baru di Arab Saudi oleh MP Materials bersama Maaden dan Departemen Pertahanan AS.
Wakil Ketua Critical Minerals Institute, Melissa Sanderson menyebut, keunggulan Arab Saudi sebagai pusat pengolahan mineral terletak pada pasokan energi yang stabil serta keahlian perusahaan energi nasional Aramco. Ia menilai, hal tersebut berpotensi mendorong metode pemurnian yang lebih efisien dan kompetitif.
Namun, Sanderson juga menilai kredensial lingkungan Arab Saudi masih menjadi tanda tanya, mengingat negara itu termasuk yang menentang sebagian rancangan resolusi PBB terkait transparansi rantai pasok dan dampak lingkungan pertambangan.
Dia menambahkan, ketidakstabilan kawasan Timur Tengah dan dinamika hubungan diplomatik dengan negara-negara Afrika kaya mineral menjadi tantangan tersendiri. Meski begitu, Arab Saudi dinilai masih memiliki opsi kerja sama dengan negara-negara Asia Tengah yang memiliki cadangan mineral dan hubungan lama dengan Aramco.
Sanderson menilai, transformasi ekonomi Arab Saudi dirancang untuk memperkuat posisi politik negara tersebut dalam peta geopolitik global.
“Ini adalah strategi untuk kekuatan jangka panjang, pengaruh jangka panjang, dan keuntungan jangka panjang," kata dia.