ilustrasi semikonduktor (unsplash.com/Vishnu Mohanan)
Keberhasilan pengendalian ekspor AS saat ini sangat bergantung pada keselarasan kebijakan dengan negara produsen teknologi utama, seperti Belanda dan Jepang. Ketidakkonsistenan aturan antara AS dan sekutunya dinilai telah membuka peluang bagi produsen non-AS untuk tetap memasok barang ke China. Kondisi ini tidak hanya menciptakan ketidakadilan pasar bagi perusahaan Amerika, tetapi juga melemahkan efektivitas kebijakan keamanan nasional dalam membatasi kapabilitas strategis China.
Investigasi parlemen mengungkapkan bahwa lima pemasok peralatan semikonduktor terbesar dunia, termasuk Applied Materials, ASML, dan Tokyo Electron, masih mencatatkan penjualan miliaran dolar ke pasar China. Menanggapi hal tersebut, anggota parlemen John Moolenaar dan Brian Mast meminta pemerintah untuk segera berkoordinasi dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick guna menutup celah diplomatik ini.
"Kami mendesak pemerintah untuk menekan sekutu agar menerapkan pengendalian di seluruh wilayah negara pada peralatan manufaktur semikonduktor dan subkomponen titik hambat utama," tulis mereka dalam surat resmi, dilansir Economic Times.
Para legislator juga memperingatkan bahwa China tengah berupaya memproduksi peralatan domestik dengan memanfaatkan akses terhadap subkomponen buatan AS dan sekutunya. Jika tren ini berlanjut, China dikhawatirkan mampu membangun rantai pasok mandiri yang dapat membuat kontrol ekspor saat ini menjadi tidak relevan. Oleh karena itu, usulan pembatasan baru ini direncanakan mencakup mesin utuh, suku cadang, hingga layanan pemeliharaan untuk peralatan yang sudah berada di China.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Belanda telah mulai memperketat aturan lisensi ekspor untuk peralatan litografi canggih guna menyelaraskan kebijakan dengan AS. Upaya koordinasi internasional ini turut didukung oleh pelaku industri seperti Mark Dougherty, Presiden unit Tokyo Electron di AS.
"Saya pikir sudah jelas, dari perspektif AS, ada hasil yang masih diinginkan yang belum tercapai," kata Dougherty, dilansir TRT World.