Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Relokasi 40 Persen Produksi Chip ke AS Dinilai Tak Masuk Akal oleh Taiwan

Relokasi 40 Persen Produksi Chip ke AS Dinilai Tak Masuk Akal oleh Taiwan
ilustrasi Chip (pexels.com/Johannes Plenio)
Intinya sih...
  • AS dorong pemindahan kapasitas produksi chip dari Taiwan
  • TSMC perluas investasi manufaktur di AS hingga 165 miliar dolar AS
  • Analis soroti hambatan relokasi besar-besaran ke AS
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Taiwan menyatakan kepada Amerika Serikat (AS), gagasan memindahkan 40 persen rantai pasok semikonduktor atau kapasitas produksi chip ke wilayah AS adalah “mustahil”. Wakil Perdana Menteri Cheng Li-chiun menyampaikan langsung posisi tersebut di Washington dan kembali menegaskannya dalam wawancara dengan Chinese Television System pada Minggu (8/2/2026).

Cheng menjelaskan, ekosistem semikonduktor Taiwan telah dibangun selama puluhan tahun sehingga tak bisa dipindahkan begitu saja ke negara lain. Ia menekankan ekspansi global, termasuk investasi di AS, hanya dapat dilakukan bila industri tetap berakar kuat di Taiwan sembari meningkatkan produksi domestik, sehingga perusahaan lebih tepat menambah investasi saat berekspansi ketimbang mengalihkan persentase kapasitas tertentu.

Table of Content

1. AS dorong pemindahan kapasitas lewat kesepakatan dagang

1. AS dorong pemindahan kapasitas lewat kesepakatan dagang

Relokasi 40 Persen Produksi Chip ke AS Dinilai Tak Masuk Akal oleh Taiwan
ilustrasi perakitan chip China (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Pernyataan Cheng bertolak belakang dengan sikap Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dalam wawancara CNBC pada bulan lalu, tak lama setelah Perjanjian Perdagangan Timbal Balik AS-Taiwan diteken. Lutnick ketika itu menyebut target pemerintahannya adalah memindahkan 40 persen seluruh rantai pasok chip Taiwan ke AS selama masa jabatan Presiden AS, Donald Trump.

"Kami akan membangun taman industri semikonduktor raksasa di Amerika ... Ini adalah uang muka sebesar 500 miliar dolar AS (setara Rp8.412 triliun) untuk mari kita bawa pulang semikonduktor itu," katanya.

Selain itu, ia juga mengingatkan perusahaan Taiwan yang enggan membangun fasilitas di AS berisiko dikenai tarif 100 persen sesuai ancaman Trump sebelumnya. Melalui kesepakatan dagang tersebut, perusahaan Taiwan berkomitmen menanamkan investasi langsung sebesar 250 miliar dolar AS (setara Rp4.206 triliun) di AS dengan dukungan jaminan kredit pemerintah dalam jumlah sama.

Sebagai timbal balik, AS memangkas batas tarif maksimum menjadi 15 persen dari ancaman sebelumnya 20 persen atau lebih, menghapus bea untuk obat generik beserta bahan bakunya dan komponen pesawat, serta menambah kuota ekspor bebas tarif bagi chip Taiwan.

2. TSMC perluas investasi manufaktur di Amerika

Relokasi 40 Persen Produksi Chip ke AS Dinilai Tak Masuk Akal oleh Taiwan
Sebuah fasilitas produksi milik TSMC yang terletak di Central Taiwan Science Park, Taichung. (Briáxis F. Mendes (孟必思), CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), produsen chip kontrak terbesar dunia telah menyatakan komitmen investasi lebih dari 65 miliar dolar AS (setara Rp1.095,9 triliun) untuk fasilitas manufaktur di AS dengan target total mencapai 165 miliar dolar AS (setara Rp2.775,9 triliun). Dukungan hibah dari CHIPS and Science Act dimanfaatkan untuk memproduksi chip paling mutakhir bagi klien utama seperti Apple dan Nvidia.

Perusahaan itu menargetkan produksi chip 3-nanometer dimulai di fasilitas mega fab Arizona pada 2027 dengan total belanja diperkirakan mencapai 165 miliar dolar AS (setara Rp2.781,9 triliun). Di dalam negeri, produksi massal chip 2 nanometer telah berlangsung di Kaohsiung sejak tahun lalu.

TSMC juga melaporkan pendapatan Januari sebesar 12,7 miliar dolar AS (setara Rp213,6 triliun), meningkat 37 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menjadi rekor bulanan tertinggi yang ditopang lonjakan permintaan chip akal imitasi (AI).

3. Analis soroti hambatan relokasi besar-besaran

Relokasi 40 Persen Produksi Chip ke AS Dinilai Tak Masuk Akal oleh Taiwan
Ilustrasi chip (pexels.com/Pok Rie)

Sejumlah analis memandang target pemindahan kapasitas produksi dari Washington sangat menantang karena berbagai kendala struktural. Hambatan itu meliputi kekurangan tenaga kerja di AS, ongkos produksi yang lebih tinggi, rantai pasok yang terfragmentasi, hingga rendahnya utilisasi peralatan canggih akibat terbatasnya tenaga terampil tingkat menengah dan tinggi.

Dilansir dari SCMP, Arisa Liu dari Taiwan Industry Economics Services menyatakan, memaksa hampir 40 persen kapasitas dipindahkan ke AS akan menimbulkan gangguan ekosistem yang sangat serius serta menaikkan biaya secara eksponensial. Sementara itu, Gary Ng dari Natixis Corporate and Investment Bank menilai angka 40 persen masih terbuka untuk berbagai tafsir sehingga dampaknya bisa berbeda di tengah ekspansi kapasitas global yang pesat, serta menggambarkannya sebagai pergeseran geopolitik dari made-in-Taiwan menjadi made-by-Taiwan yang kini juga terjadi di AS, Jepang, dan Eropa.

Di sisi lain, Taiwan menerapkan kebijakan N-2 yang mengharuskan fasilitas di luar negeri, termasuk di AS, memakai teknologi minimal dua generasi di bawah proses paling mutakhir yang tetap dipertahankan di Taiwan. Para pengamat geopolitik juga mengemukakan teori Silicon Shield yang menilai posisi sentral Taiwan dalam rantai pasok chip global menjadi faktor strategis bagi perlindungan kedaulatan pulau tersebut di tengah klaim China, sementara Departemen Perdagangan AS belum memberikan tanggapan atas pernyataan Cheng.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

Purbaya Tepis Isu 2 Pejabat Negara Masuk Bursa Bos OJK

12 Feb 2026, 22:32 WIBBusiness