Ilustrasi anjungan pengeboran minyak. (unsplash.com/Maria Lupan)
Menurut laporan tersebut, rata-rata minyak mentah Brent diperkirakan mencapai 86 dolar AS (sekitar Rp1,5 juta) per barel pada 2026. Jumlah tersebut naik signifikan dari 69 dolar AS (Rp1,2 juta) pada 2025. Gangguan awal terhadap pasokan global telah memangkas produksi hingga 10 juta barel per hari. Komoditas lain, seperti harga pupuk diprediksi melambung 31 persen. Sementara, harga komoditas secara keseluruhan naik 16 persen.
Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill, menekankan bahwa perang ini menghantam ekonomi global secara beruntun, mulai dari lonjakan harga energi dan pangan hingga inflasi tinggi yang memicu kenaikan suku bunga global.
"Negara-negara berkembang dan negara-negara miskin akan terkena dampak paling parah dengan percepatan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi," Gill memperingatkan.
Prediksi Bank Dunia ini didasarkan pada asumsi bahwa gangguan parah akan mereda pada Mei 2026. Aktivitas pengiriman di Selat Hormuz, yang melayani 35 persen perdagangan minyak mentah global, diasumsikan pulih secara bertahap pada akhir tahun. Namun, jika eskalasi berlanjut, dampaknya terhadap pasar logam dan bahan baku industri dipastikan akan meluas.