Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bank Dunia: Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Energi 24 Persen Pada 2026
Ilustrasi pengeboran minyak. (pexels.com/Jan Zakelj)
  • Bank Dunia memproyeksikan harga energi global naik 24 persen pada 2026 akibat konflik Timur Tengah yang mengganggu jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz.
  • Laporan menunjukkan lonjakan harga minyak, pupuk, dan logam akan menekan sektor pangan serta meningkatkan risiko kelaparan bagi puluhan juta orang di berbagai negara.
  • Negara berkembang diperkirakan menghadapi inflasi rata-rata 5,1 persen dan pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 3,6 persen karena dampak beruntun dari krisis energi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Bank Dunia memperingatkan bahwa harga energi global diproyeksikan meningkat 24 persen pada 2026, akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Lonjakan ini diperkirakan akan menjadi yang tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Dalam laporan Commodity Markets Outlook terbaru yang dirilis pada Selasa (28/4/2026), lembaga tersebut menyebutkan bahwa gangguan pada jalur perdagangan vital, khususnya Selat Hormuz, telah memicu guncangan pasokan minyak global, dilansir NHK News.

1. Ancaman inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi

Ilustrasi anjungan pengeboran minyak. (unsplash.com/Maria Lupan)

Menurut laporan tersebut, rata-rata minyak mentah Brent diperkirakan mencapai 86 dolar AS (sekitar Rp1,5 juta) per barel pada 2026. Jumlah tersebut naik signifikan dari 69 dolar AS (Rp1,2 juta) pada 2025. Gangguan awal terhadap pasokan global telah memangkas produksi hingga 10 juta barel per hari. Komoditas lain, seperti harga pupuk diprediksi melambung 31 persen. Sementara, harga komoditas secara keseluruhan naik 16 persen.

Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill, menekankan bahwa perang ini menghantam ekonomi global secara beruntun, mulai dari lonjakan harga energi dan pangan hingga inflasi tinggi yang memicu kenaikan suku bunga global.

"Negara-negara berkembang dan negara-negara miskin akan terkena dampak paling parah dengan percepatan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi," Gill memperingatkan.

Prediksi Bank Dunia ini didasarkan pada asumsi bahwa gangguan parah akan mereda pada Mei 2026. Aktivitas pengiriman di Selat Hormuz, yang melayani 35 persen perdagangan minyak mentah global, diasumsikan pulih secara bertahap pada akhir tahun. Namun, jika eskalasi berlanjut, dampaknya terhadap pasar logam dan bahan baku industri dipastikan akan meluas.

2. Guncangan pasar komoditas dan pertanian

Ilustrasi lahan pertanian. (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

Laporan terbaru Bank Dunia memproyeksikan tekanan berat pada sektor pangan dan logam. Untuk pupuk dan pangan, harga pupuk diperkirakan melonjak 31 persen pada 2026 karena didorong oleh kenaikan harga urea sebesar 60 persen. Kondisi ini mengancam pendapatan petani dan menurunkan keterjangkauan pupuk ke level terendah sejak 2022.

Program Pangan Dunia (WFP) memprediksi konflik tersebut dapat menjerumuskan tambahan 45 juta orang ke dalam kelaparan akut tahun ini.

Di sisi lain, harga logam dasar, seperti aluminium dan tembaga diprediksi mencetak rekor tertinggi. Logam mulia diperkirakan naik rata-rata 42 persen karena investor beralih ke aset safe-haven akibat ketidakpastian geopolitik, dilansir Anadolu Agency.

3. Negara-negara berkembang akan menghadapi inflasi yang mencapai 5,1 persen

Potret Bundaran HI di Jakarta, Indonesia. (unspalsh.com/ Eko Herwantoro)

Laporan World Bank menunjukkan revisi signifikan terhadap prospek ekonomi negara berkembang. Inflasi diprediksi rata-rata 5,1 persen, naik satu poin persentase dari perkiraan awal. Sementara, pertumbuhan ekonomi dipangkas menjadi 3,6 persen, turun 0,4 poin persentase dari proyeksi Januari.

Harga minyak mentah Brent berisiko menyentuh 115 dolar AS (Rp2 juta) per barel, jika eskalasi konflik merusak infrastruktur energi dan menghambat ekspor.

Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia, Ayhan Kose, menyoroti bahwa deretan guncangan selama dekade terakhir menguras kapasitas anggaran negara-negara di dunia.

"Ruang fiskal untuk merespons krisis energi saat ini telah berkurang drastis akibat serangkaian guncangan ekonomi selama sepuluh tahun terakhir," ujar Kose.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team