Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BI Naikkan Yield SRBI, Perry Bidik Arus Modal Asing Kembali Masuk
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo rapat dengan Komisi XI. (Dok/Istimewa).
  • Bank Indonesia menaikkan yield SRBI hingga 6,45 persen untuk menarik kembali dana asing yang sempat keluar akibat tekanan global dan lonjakan harga minyak dunia.
  • Kenaikan yield SRBI berhasil memicu inflow asing mencapai Rp75,31 triliun pada April–Mei 2026, mengompensasi outflow besar dari pasar saham dan SBN di awal tahun.
  • Meskipun net inflow mencapai Rp67,3 triliun, permintaan dolar AS masih tinggi sehingga BI tetap melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik kembali aliran dana asing ke pasar domestik, di tengah tingginya tekanan global yang memicu keluarnya modal dari pasar saham dan obligasi.

Gubernur Perry Warjiyo mengatakan yield SRBI tenor 12 bulan saat ini berada di level 6,45 persen Sementara itu, yield SRBI tenor 9 bulan berada di kisaran 6,31 persen dan 6,2 persen. Artinya, investor yang menaruh dana lebih lama mendapat imbal hasil lebih tinggi.

Menurut Perry, langkah menaikkan yield SRBI dilakukan karena tekanan global meningkat, terutama akibat memanasnya konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia yang mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

"Kan perangnya semakin ganas sehingga dampak ke harga minyak dunia tinggi banget. Oleh karena itu, kenapa kami perlu naikkan suku bunga SRBI supaya terjadi arus modal asing masuk (inflow)," tegasnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI, Senin (18/5/2026).

1. Banyak outlfow di pasar keuangan domestik

Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

BI mencatat sepanjang kuartal I-2026 investor asing masih banyak menarik dana dari pasar keuangan domestik. Pada periode Januari-Maret 2026, arus modal keluar (outflow) dari pasar saham mencapai Rp26,06 triliun. Sementara itu, outflow dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp25,1 triliun. Di sisi lain, aliran dana asing di instrumen SRBI yang pada Januari dan Februari masih mencatat inflow mulai mengalami outflow pada Maret 2026.

“Nah SRBI Januari dan Februari masih inflow. Tapi Maret juga mulai outflow karena tekanan global semakin tinggi dan dampak kenaikan harga minyak besar sekali,” kata Perry.

Untuk meredam tekanan tersebut, BI kemudian meningkatkan daya tarik SRBI melalui kenaikan yield agar investor asing kembali masuk ke instrumen domestik. Hasilnya, arus modal asing ke SRBI mulai kembali masuk pada April 2026 sebesar Rp48,2 triliun. Selanjutnya hingga 8 Mei 2026, inflow tambahan mencapai Rp27,05 triliun. Dengan demikian, total inflow SRBI sepanjang April hingga 8 Mei 2026 mencapai Rp75,31 triliun. Adapun secara keseluruhan sejak awal tahun, inflow SRBI telah mencapai Rp105,16 triliun.

“Ini untuk mengompensasi outflow dari saham dan SBN,” ujar Perry.

2. Pembelian SBN oleh investor capai Rp13,36 triliun per April

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

Ia menjelaskan, masuknya dana asing ke SRBI membantu menambah pasokan valuta asing (valas) di pasar domestik karena investor asing membeli SRBI di pasar sekunder. Selain SRBI, BI juga mulai melihat adanya aliran dana asing masuk ke Surat Berharga Negara (SBN). Pada April 2026, pembelian SBN oleh investor asing tercatat sebesar Rp13,36 triliun.

Meski demikian, secara tahunan pasar saham dan SBN masih membukukan outflow. Namun, pada minggu pertama Mei hingga 8 Mei 2026, pasar saham mulai mencatat inflow sebesar Rp10,19 triliun.

“Saham masih outflow sehingga kami meningkatkan SRBI supaya net inflow tetap terjadi,” kata Perry.

3. Permintaan dolar AS masih cukup tinggi beri tekanan ke rupiah

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

BI mencatat net inflow secara keseluruhan mencapai Rp67,3 triliun, yang dinilai membantu menjaga pasokan valas di dalam negeri. Namun Perry mengakui tekanan terhadap rupiah masih cukup besar karena permintaan dolar AS global masih tinggi. Oleh sebab itu, BI tetap melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Insyaallah Juli-Agustus demand dolar AS mulai menurun sehingga kebutuhan intervensi tidak terlalu besar,” ujar Perry

Editorial Team