Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BI Pastikan Tetap Berada di Pasar untuk Stabilkan Rupiah
ilustrasi rupiah menguat (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah dengan terus hadir di pasar, meski nilai tukar sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di Rp17.423,5 per dolar AS.
  • BI mengoptimalkan intervensi melalui instrumen seperti NDF, DNDF, transaksi spot, dan pembelian SBN untuk menahan tekanan global terhadap nilai tukar rupiah.
  • Gubernur BI menyebut pelemahan rupiah dipicu faktor eksternal dan musiman, sementara fundamental ekonomi domestik tetap kuat dengan pertumbuhan 5,61 persen dan inflasi rendah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesBank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme berjalan dengan baik sekaligus mempertahankan stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada perdagangan kemarin ditutup di level Rp17.423,5 per dolar AS, atau tercatat sebagai level terendah sepanjang sejarah.

1. Pelemahan rupiah tidak sendiri

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang negara berkembang lainnya.

Beberapa data pergerakan mata uang sejak awal konflik:

  • Philippine Peso melemah 6,58 persen

  • Thailand Baht melemah 5,04 persen

  • India Rupee melemah 4,32 persen

  • Chile Peso melemah 4,24 persen

“Sedangkan rupiah melemah 3,65 persen, dan Korea Won 2,29 persen,” tegas Hutapea.

2. BI optimalkan intervensi di pasar valas

ilustrasi dolar AS (pexels.com/pixabay)

Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui berbagai instrumen, antara lain:

  • Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore

  • Transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik

  • Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder

Langkah-langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang berlanjut.

“Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk selalu hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tambah Hutapea.

3. Pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan musiman

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil rapat terbatas (ratas) di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (20/6/2024). (IDN Times/Trio Hamdani)

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal dan musiman, bukan karena kondisi ekonomi domestik yang rapuh. Sejumlah indikator utama, menurutnya, masih berada dalam kondisi positif.

“Nilai tukar saat ini memang undervalue, dan ke depan kami yakin akan stabil bahkan menguat,” ujar Perry.

Ia merinci beberapa fondasi ekonomi yang mendukung rupiah:

  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen

  • Inflasi tetap rendah

  • Kredit tumbuh tinggi

  • Cadangan devisa berada pada level kuat

“Ini adalah fundamental yang menunjukkan rupiah seharusnya stabil dan cenderung menguat,” tambah Perry.

Editorial Team