Rupiah Tembus Rp17.400, Airlangga Sebut Permintaan Dolar AS Naik saat Musim Haji

- Rupiah melemah hingga Rp17.425 per dolar AS, dipicu meningkatnya permintaan dolar selama musim haji dan pencairan dividen kuartal II-2026.
- Airlangga Hartarto menegaskan pelemahan mata uang tidak hanya dialami Indonesia, melainkan juga terjadi di berbagai negara lain terhadap dolar AS.
- Pemerintah dan Bank Indonesia merespons dengan kebijakan seperti perjanjian swap bilateral serta penerbitan obligasi dalam mata uang non-dolar untuk menjaga stabilitas rupiah.
Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, membeberkan sejumlah faktor yang mendorong pelemahan nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Salah satu faktornya adalah musim ibadah haji yang menyebabkan permintaan atas dolar AS meningkat.
“Terkait dengan rupiah itu berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap dolar AS dan biasanya juga pada saat ibadah haji, demand terhadap dolar itu meningkat,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Selain itu, maraknya pencairan dividen di kuartal II-2026 akan meningkatkan permintaan dolar AS, yang mendorong pelemahan rupiah.
“Biasanya di kuartal kedua itu juga ada pembayaran dividen. Jadi demand terhadap dolar tinggi dan kita lihat tetap monitor bagaimana dengan negara-negara lain,” ujar Airlangga.
Menurut Airlangga, pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS tak hanya dialami Indonesia.
“Terkait dengan rupiah itu berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap dolar AS,” kata Airlangga.
Untuk menangani hal tersebut, Airlangga mengatakan, Bank Indonesia (BI) telah mengeluarkan berbagai kebijakan, salah satunya kerja sama perjanjian swap bilateral dalam mata uang lokal (Bilateral Currency Swap Arrangement - BCSA).
Perjanjian kerja sama ini dimaksudkan untuk semakin mendorong perdagangan bilateral dan investasi langsung dalam mata uang lokal masing-masing negara.
“Kemudian dengan berbagai negara lain termasuk Jepang, Korea dan yang lain,” ujar Airlangga.
Dia mengatakan, pemerintah akan mendorong penerbitan surat utang atau obligasi dengan mata uang selain dolar AS.
“Sehingga berharap nanti ke depan kita juga akan terus mempersiapkan komposisi terkait dengan tingkat utang yang kita bisa, surat berharga yang kita bisa terbitkan, yang sifatnya seperti dari China ataupun dari yen itu untuk menjaga tekanan terhadap dolar AS,” kata dia.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sore ini berada pada level Rp17.425. Pada perdagangan hari ini, kurs rupiah sempat menyentuh level terburuk sepanjang masa, yakni Rp17.455 per dolar AS.
















