Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Calon Ketua OJK Ungkap Sederet Tantangan Industri Jasa Keuangan
Penjabat Sementara Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Frederica Widyasari Dewi usai menjalani Fit and Proper Test. (IDN Times/Triyan)
  • Frederica Widyasari Dewi menyoroti tantangan sektor jasa keuangan akibat fragmentasi geopolitik, digitalisasi, perubahan iklim, dan meningkatnya kejahatan keuangan digital yang turut memengaruhi stabilitas industri di Indonesia.
  • Di tingkat domestik, ia menekankan turunnya kepercayaan publik terhadap sektor keuangan serta perlunya penguatan pengawasan, perlindungan konsumen, dan peningkatan infrastruktur teknologi OJK.
  • Meskipun menghadapi tekanan global dan internal, sektor jasa keuangan Indonesia tetap tangguh dengan pertumbuhan kredit 9,63 persen, CAR 25,89 persen, dan NPL terjaga di level 2,05 persen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Calon Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Frederica Widyasari Dewi, menilai sektor jasa keuangan tengah menghadapi berbagai tantangan yang datang dari dinamika global hingga kondisi domestik. Hal tersebut dinilai memengaruhi stabilitas industri serta tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sektor keuangan.

Dia mengatakan fragmentasi geopolitik global menjadi salah satu faktor yang berdampak signifikan terhadap industri jasa keuangan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

"Kita melihat bagaimana fragmentasi geopolitik juga sangat memengaruhi sektor jasa keuangan dunia, di antaranya faktor disrupsi dan digitalisasi sektor keuangan, meningkatnya risiko perubahan iklim, meningkatnya kejahatan keuangan digital yang dampaknya dirasakan juga di dalam Indonesia," kata Frederica dalam paparannya saat menjalani Fit and Proper Test, Rabu (11/3/2026).

1. Catatan turunnya tingkat kepercayaan publik terhadap sektor keuangan

Penjabat Sementara Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Frederica Widyasari Dewi usai menjalani Fit and Proper Test. (IDN Times/Triyan)

Di tingkat domestik, dia menyoroti menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap sektor keuangan. Hal ini, menurutnya tercermin dari dinamika yang sempat terjadi di pasar modal Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Selain itu, sektor keuangan juga dihadapkan pada kompleksitas produk dan konglomerasi keuangan, kebutuhan pembiayaan pembangunan nasional yang semakin besar, serta kondisi sektor keuangan nasional yang dinilai masih belum cukup dalam.

Tak hanya itu, OJK juga menghadapi tantangan internal, antara lain perlunya penguatan pengaturan dan pengawasan, peningkatan perlindungan konsumen, kompleksitas proses bisnis dan birokrasi, keterbatasan infrastruktur teknologi informasi, serta keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia.

"OJK juga menghadapi kompleksitas proses bisnis dan birokrasi, keterbatasan infrastruktur IT, dan tentu saja keterbatasan anggaran serta SDM," kata perempuan yang akrab disapa Kiki itu.

2. Kondisi sektor jasa tunjukkan ketahanan yang baik

Ilustrasi cadangan devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Frederica menilai kondisi sektor jasa keuangan Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik.

Dia mencatat pertumbuhan kredit perbankan masih mencapai 9,63 persen. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) perbankan juga tetap kuat di level 25,89 persen.

3. Rasio kredit bermasalah masih terjaga di level 2,05 persen

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) masih terjaga di level 2,05 persen, dengan likuiditas perbankan yang dinilai masih memadai.

Ketahanan juga terlihat pada sektor industri keuangan nonbank (IKNB). Hal ini tercermin dari rasio risk-based capital (RBC) industri asuransi yang masih berada di atas batas ketentuan regulator.

Editorial Team