Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi menghitung
ilustrasi menghitung (pexels.com/Lukas)

Intinya sih...

  • Cash flow menunjukkan pergerakan uang nyata dalam bisnis.

  • Profit mencerminkan keuntungan berdasarkan perhitungan akuntansi.

  • Cash flow vs profit berbeda dari sisi fungsi dan tujuan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam dunia bisnis, istilah cash flow dan profit hampir selalu muncul dalam laporan keuangan, diskusi strategi, hingga obrolan antar pelaku usaha. Keduanya kerap dianggap serupa karena sama-sama berkaitan dengan uang dan kinerja perusahaan. Padahal, cash flow vs profit memiliki pengertian, fungsi, dan dampak yang berbeda terhadap keberlangsungan sebuah bisnis.

Kesalahan memahami dua konsep ini bisa membuat bisnis terlihat menguntungkan di atas kertas, tetapi justru kesulitan bertahan dalam praktik sehari-hari. Kondisi tersebut sering dialami oleh pelaku usaha yang hanya berfokus pada laba tanpa memperhatikan arus kas. Untuk menghindari kekeliruan tersebut, penting memahami perbedaan cash flow vs profit secara lebih mendalam melalui pembahasan berikut ini.

1. Cash flow menunjukkan pergerakan uang nyata dalam bisnis

ilustrasi menghitung cash flow (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Cash flow atau arus kas merujuk pada aliran uang yang benar-benar masuk dan keluar dari suatu bisnis dalam periode tertentu. Fokus utama cash flow adalah likuiditas, yakni kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, seperti membayar gaji karyawan, melunasi utang, hingga membeli bahan baku. Dengan kata lain, cash flow menggambarkan kondisi kas yang tersedia secara riil, bukan sekadar angka di laporan.

Arus kas bisa berasal dari aktivitas operasional, investasi, dan pendanaan. Jika uang masuk lebih besar daripada uang keluar, maka cash flow bernilai positif dan bisnis memiliki ruang bernapas yang lebih lega. Sebaliknya, cash flow negatif menandakan risiko operasional, meskipun perusahaan terlihat aktif berjualan. Inilah alasan mengapa cash flow sering dianggap sebagai “urat nadi” bisnis.

2. Profit mencerminkan keuntungan berdasarkan perhitungan akuntansi

ilustrasi kenaikan ekonomi (pexels.com/Monstera Production)

Berbeda dari cash flow, profit atau laba bersih adalah selisih antara pendapatan dan seluruh biaya yang dikeluarkan perusahaan, termasuk pajak dan bunga. Profit dihitung menggunakan basis akrual, artinya pendapatan dan biaya diakui saat transaksi terjadi, bukan ketika uang benar-benar berpindah tangan. Konsep ini penting untuk menilai kinerja bisnis secara menyeluruh.

Profit biasanya menjadi tolok ukur utama dalam menilai apakah suatu usaha layak dikembangkan atau tidak. Laba juga menjadi dasar pembagian dividen kepada pemegang saham atau sumber dana untuk ekspansi bisnis. Namun, profit tidak selalu mencerminkan kondisi kas yang sehat. Perusahaan bisa mencatat laba besar, tetapi tetap kekurangan uang tunai untuk operasional harian.

3. Cash flow vs profit berbeda dari sisi fungsi dan tujuan

ilustrasi menghitung profit (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Meski sering dibahas bersamaan, cash flow dan profit sebenarnya memiliki peran yang berbeda dalam pengelolaan keuangan bisnis. Keduanya digunakan untuk tujuan yang tidak sama dan menjawab kebutuhan yang berbeda pula, tergantung kondisi serta tahap perkembangan usaha. Oleh karena itu, memahami perbedaan cash flow vs profit dari sisi fungsi dan tujuan menjadi krusial sebelum pelaku bisnis menentukan prioritas keuangan.

a. Cash flow mengukur likuiditas jangka pendek bisnis

Cash flow berfungsi untuk menunjukkan kemampuan bisnis dalam memenuhi kewajiban finansial jangka pendek secara nyata dan tepat waktu. Melalui arus kas, pemilik usaha dapat memastikan ketersediaan dana untuk membayar gaji karyawan, melunasi utang, hingga membiayai operasional harian. Tanpa cash flow yang sehat, bisnis berisiko mengalami gangguan aktivitas meskipun penjualan terlihat tinggi.

b. Profit menilai efisiensi dan kinerja keuangan perusahaan

Profit digunakan untuk mengukur seberapa efisien perusahaan mengelola pendapatan dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Laba memberikan gambaran apakah strategi bisnis yang dijalankan sudah menghasilkan nilai tambah atau masih perlu evaluasi. Tidak heran jika profit sering dijadikan acuan utama dalam menilai performa dan daya tarik bisnis.

c. Cash flow fokus pada uang nyata yang tersedia

Dalam konteks cash flow vs profit, arus kas hanya mencatat uang yang benar-benar sudah masuk dan keluar dari perusahaan. Pendapatan yang masih berupa piutang belum dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional. Hal ini membuat cash flow lebih mencerminkan kondisi keuangan riil yang bisa langsung digunakan.

d. Profit dihitung berdasarkan prinsip akrual

Berbeda dengan cash flow, profit tetap mencatat pendapatan meskipun pembayaran belum diterima secara tunai. Prinsip akrual membantu perusahaan melihat gambaran kinerja bisnis secara menyeluruh dalam satu periode. Namun, pendekatan ini juga menuntut pengelolaan arus kas yang disiplin agar laba tidak hanya terlihat baik di laporan.

e. Cash flow mendukung pengambilan keputusan operasional

Arus kas berperan penting dalam membantu manajemen mengambil keputusan keuangan secara cepat dan terukur. Dengan memantau cash flow, perusahaan dapat menentukan waktu pengeluaran, menunda pembayaran tertentu, atau mencari pendanaan tambahan jika diperlukan. Fungsi ini menjadikan cash flow alat utama dalam pengendalian keuangan sehari-hari.

Melalui berbagai fungsi tersebut, terlihat bahwa cash flow vs profit memiliki fokus yang berbeda dalam praktik bisnis. Perbedaan ini memengaruhi cara pelaku usaha membaca kondisi keuangan dan menyusun strategi operasional. Pemahaman yang tepat akan membantu bisnis menghindari keputusan yang keliru akibat hanya melihat satu indikator saja.

4. Arus kas dan laba sama-sama penting, tapi konteksnya berbeda

ilustrasi menghitung arus kas (pexels.com/Artem Podrez)

Pertanyaan klasik dalam cash flow vs profit adalah mana yang lebih penting. Jawabannya bergantung pada kondisi dan tahap bisnis. Untuk usaha yang sedang berkembang atau memiliki banyak kewajiban rutin, cash flow sering kali menjadi prioritas utama. Tanpa kas yang cukup, operasional bisa terhenti meskipun laba tercatat positif.

Namun, profit tetap tidak bisa diabaikan karena menjadi indikator kesehatan bisnis secara keseluruhan. Bisnis yang hanya fokus pada arus kas tanpa menghasilkan laba berisiko stagnan. Oleh sebab itu, cash flow dan profit seharusnya dipandang sebagai dua metrik yang saling melengkapi, bukan dipertentangkan.

5. Contoh nyata menunjukkan pentingnya memahami cash flow vs profit

ilustrasi menghitung keuangan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Bayangkan sebuah perusahaan teknologi yang mencatat laba bersih Rp100 miliar dari kontrak besar dengan klien korporat. Sayangnya, pembayaran baru diterima enam bulan kemudian. Selama periode tersebut, perusahaan harus menanggung biaya operasional tanpa kas masuk, sehingga arus kasnya justru negatif. Situasi ini kerap terjadi pada bisnis berbasis proyek.

Sebaliknya, bisnis ritel harian mungkin hanya mencatat laba tipis, tetapi memiliki cash flow yang kuat karena transaksi tunai terjadi setiap hari. Contoh ini mempertegas bahwa memahami cash flow vs profit sangat krusial agar pelaku usaha tidak terjebak pada angka laba semu. Keseimbangan antara arus kas dan laba adalah kunci bisnis yang sehat dan berkelanjutan.

Memahami cash flow vs profit membantu pelaku usaha melihat kondisi keuangan bisnis secara lebih realistis dan menyeluruh. Arus kas memastikan operasional tetap berjalan, sementara laba menunjukkan arah dan potensi pertumbuhan usaha. Dengan mengelola keduanya secara seimbang, bisnis dapat mengambil keputusan keuangan yang lebih tepat dan berkelanjutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team