ilustrasi pekerja pabrik (pexels.com/Tiger Lily)
Pemerintah menetapkan sasaran penciptaan lebih dari 12 juta pekerjaan baru di wilayah perkotaan pada 2026. Tingkat pengangguran perkotaan juga dipertahankan sekitar 5,5 persen, sama seperti target yang digunakan dalam beberapa tahun terakhir.
Di sisi fiskal, pemerintah tetap menjalankan kebijakan ekspansif dengan mempertahankan rasio defisit anggaran terhadap PDB di sekitar 4 persen. Belanja anggaran publik umum diperkirakan menembus 30 triliun yuan (setara Rp73,5 kuadriliun) untuk pertama kalinya, meningkat sekitar 1,27 triliun yuan (setara Rp3,11 kuadriliun) dibandingkan 2025, dengan fokus utama pada peningkatan konsumsi domestik serta dorongan investasi.
Target inflasi melalui Indeks Harga Konsumen tetap dijaga di sekitar 2 persen. Namun tekanan deflasi masih terasa karena indeks harga produsen turun 1,4 persen pada Januari 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan telah mengalami penurunan selama 40 bulan berturut-turut, sementara harga konsumen stagnan sepanjang 2025 serta hanya naik 0,2 persen pada Januari 2026, sehingga pemerintah berupaya mengembalikan tingkat harga umum ke wilayah positif serta menciptakan pemulihan harga konsumen yang wajar dan moderat guna mendukung siklus ekonomi yang sehat.
Sektor properti masih menjadi salah satu tekanan terbesar bagi perekonomian. Investasi real estat sepanjang 2025 merosot 17,2 persen dan penjualan rumah komersial berdasarkan luas lantai turun 8,7 persen, sementara pembangunan rumah baru tertinggal jauh dari masa puncaknya dan kelebihan stok hunian terus menekan harga di banyak kota, sehingga pemerintah berencana menerapkan kebijakan berbeda di setiap kota untuk mengendalikan proyek baru, menekan inventaris, serta menambah pasokan perumahan.
Pemerintah juga akan mempercepat pembelian unit rumah yang belum terjual agar dapat dialihkan menjadi perumahan bersubsidi pemerintah. Selain itu, pemanfaatan mekanisme daftar putih akan diperkuat guna memastikan proyek perumahan selesai tepat waktu sekaligus mencegah risiko gagal bayar utang.