Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
China Perpanjang Izin Ekspor 425 Pabrik Daging Sapi AS
ilustrasi bendera China (pixabay.com/SW1994)
  • Pemerintah China memperpanjang izin ekspor bagi 425 pabrik daging sapi AS dan menambahkan 77 fasilitas baru, membuka kembali akses pasar setelah sempat tertunda akibat ketegangan dagang.
  • Kembalinya daging sapi AS ke pasar China diperkirakan memengaruhi harga di Asia Timur, dengan potensi kenaikan harga potongan tertentu serta dorongan untuk menjaga keseimbangan stok domestik.
  • Produksi sapi di AS sedang menurun ke level terendah dalam 70 tahun, membatasi kapasitas ekspor dan membuat pemulihan volume perdagangan bergantung pada peningkatan populasi ternak nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah China resmi membuka kembali akses pasar untuk ratusan fasilitas pengolahan daging sapi dari Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini mulai berlaku pada Jumat (15/5/2026), setelah kedua negara menyelesaikan serangkaian perundingan.

Pembukaan kembali jalur perdagangan ini diharapkan bisa mengatasi masalah perizinan yang sebelumnya menghambat ekspor daging sapi AS ke China. Keputusan ini disambut baik karena dinilai dapat mengurangi ketegangan perdagangan di sektor pertanian dan peternakan antara kedua negara.

1. Pemulihan izin ratusan pabrik daging sapi AS

Otoritas Bea Cukai China (GACC) memberikan perpanjangan izin selama lima tahun kepada 425 fasilitas pengolahan daging sapi AS. Selain itu, ada 77 fasilitas baru yang didaftarkan ke dalam sistem Food Import Food Establishment (CIFER).

Sebelumnya, izin ekspor dari ratusan fasilitas tersebut tidak berlaku sejak tahun lalu akibat dinamika hubungan dagang antara AS dan China. Saat ini, masih ada sekitar 38 fasilitas daging sapi yang izinnya ditangguhkan dan sedang dalam tahap koordinasi lanjutan oleh pemerintah AS.

"Pembaruan izin fasilitas daging sapi AS ini adalah langkah yang sangat penting untuk kelancaran ekspor kita ke China," kata Presiden dan CEO Federasi Ekspor Daging AS (USMEF), Dan Halstrom, dikutip dari Bloomberg.

2. Dampak perizinan ekspor terhadap harga daging sapi di Asia

Kembalinya produk daging sapi AS ke pasar China diperkirakan akan mempengaruhi wilayah sekitarnya. Permintaan yang tinggi dari China dapat memengaruhi kestabilan harga daging di negara tujuan ekspor lain seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.

Kondisi ini berpotensi menaikkan harga jual untuk potongan daging tertentu, seperti bagian short plates, sekitar 1 hingga 2 dolar AS (Rp17,7 ribu-Rp35,4 ribu) per pon. Meski peluang ekspor kembali terbuka, industri peternakan harus menjaga keseimbangan stok daging dalam negeri.

"Di satu sisi kita menghadapi harga daging sapi yang sedang tinggi, namun di sisi lain kita juga membahas soal ekspor. Meskipun kita butuh kegiatan ekspor, keduanya harus saling seimbang," kata Ekonom John Nalivka.

Secara historis, nilai ekspor daging sapi AS ke China pernah meningkat dari sekitar 300 juta dolar AS (Rp5,31 triliun) pada 2020 menjadi lebih dari 2 miliar dolar AS (Rp35,4 triliun) pada tahun 2022. Hal ini menunjukkan besarnya pangsa pasar China bagi industri peternakan global.

3. Tantangan keterbatasan stok sapi di AS

Meski regulasi ekspor telah selesai, muncul tantangan baru dari produksi di dalam negeri AS. Jumlah sapi potong di negara tersebut saat ini berada di tingkat terendah dalam 70 tahun terakhir. Terbatasnya persediaan sapi ini menyebabkan kenaikan harga daging di pasar lokal dan membatasi kemampuan ekspor.

Pada awal tahun 2026, jumlah pengiriman daging sapi ke China tercatat turun 95 persen menjadi 5,3 juta pon jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk menyiasati hal ini, pengekspor kemungkinan akan memindahkan sebagian produk dari negara Asia lainnya.

"Jika perdagangan dari AS ke China mulai naik, persediaan daging itu akan dialihkan dari pasar Jepang dan Korea Selatan karena tidak ada sumber lain untuk mendapatkan daging bagian depan ini," kata analis Global Agritrends, Simon Quilty.

Di sisi lain, saat pembatasan ekspor dari AS terjadi, negara pesaing seperti Australia dan Brasil telah lebih dulu menambah jumlah penjualan daging mereka ke China. Pemulihan volume ekspor AS ke depannya akan sangat bergantung pada seberapa cepat mereka bisa memulihkan populasi sapi di dalam negeri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team