Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Trump Umumkan China Sepakat Beli 200 Pesawat Boeing

Trump Umumkan China Sepakat Beli 200 Pesawat Boeing
Boeing (unsplash.com/ Sven Piper)
Intinya Sih
  • Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan China membeli 200 pesawat Boeing senilai hingga 19 miliar dolar AS, dengan potensi tambahan pesanan mencapai 750 unit di masa depan.
  • Kesepakatan ini menjadi langkah strategis bagi Boeing untuk kembali memperkuat posisinya di pasar Asia Timur setelah sebelumnya tertinggal dari Airbus.
  • Perjanjian dagang ini menandai pemulihan hubungan ekonomi AS-China, meski pelaku pasar masih berhati-hati terhadap isu pengiriman suku cadang dan stabilitas politik kedua negara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan kesepakatan dagang baru dengan China terkait pembelian ratusan pesawat komersial. Pengumuman ini disampaikan oleh Trump dalam perjalanan pulangnya usai menghadiri pertemuan tingkat tinggi di Beijing pada Jumat (15/5/2026).

Kesepakatan antara kedua negara ini diharapkan dapat memulihkan kerja sama ekonomi yang sebelumnya sempat merenggang. Selain itu, langkah ini dinilai menjadi awal yang positif bagi perkembangan industri aviasi dan transportasi udara secara global.

1. China sepakat beli 200 pesawat Boeing

Pesawat Boeing (boeing.com)
Pesawat Boeing (boeing.com)

China telah menyetujui tahap awal pembelian 200 pesawat buatan Boeing, dengan peluang penambahan pesanan hingga 750 unit di masa depan. Seluruh pesawat dalam kontrak ini akan menggunakan mesin dari perusahaan GE Aerospace. Pesanan awal yang bernilai sekitar 17 hingga 19 miliar dolar AS (Rp300,26 triliun-Rp335,58 triliun) ini sebagian besar adalah pesawat tipe Boeing 737 MAX.

Rencana kunjungan Presiden Xi Jinping ke Washington pada bulan September mendatang diperkirakan menjadi waktu untuk memastikan kelanjutan pesanan tersebut. Pemerintah AS menilai kesepakatan ini akan membuka banyak lapangan kerja baru di negaranya.

"Kesepakatan ini mencakup sekitar 200 pesawat dan bisa bertambah hingga 750 pesawat jika semuanya berjalan lancar," kata Presiden Trump, dilansir GV Wire.

2. Upaya Boeing menguasai kembali pasar Asia Timur

ilustrasi pesawat Boeing (unsplash.com/Luca Cavallin)
ilustrasi pesawat Boeing (unsplash.com/Luca Cavallin)

Kesepakatan dagang ini menjadi momentum bagi Boeing untuk kembali masuk ke pasar China. Hal ini penting guna mengejar ketertinggalan Boeing dari pesaing utamanya asal Eropa, Airbus, yang lebih banyak menguasai pasar pesawat di wilayah Asia Timur dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk melancarkan negosiasi, Direktur Utama Boeing, Kelly Ortberg, ikut mendampingi rombongan presiden ke Beijing. Kehadiran pimpinan perusahaan besar AS ini menunjukkan pentingnya kerja sama ekonomi bagi kedua negara. Pihak Boeing pun mengapresiasi bantuan pemerintah dalam proses negosiasi tersebut.

"Presiden Trump sangat fokus membantu kami dalam kegiatan kerja sama internasional, dan beliau sangat berhasil melakukannya," kata Ortberg, dilansir Associated Press.

3. Pemulihan hubungan dagang dan kehati-hatian pelaku pasar

Bendera China sedang berkibar.
potret bendera China (pexels.com/Charlie Jin)

Sebelumnya, bisnis Boeing di China sempat menurun akibat perang tarif impor sejak awal tahun 2025. Kebijakan dari Beijing sempat melarang maskapai penerbangannya untuk memesan atau menerima pesawat buatan AS. Situasi ini juga dipengaruhi oleh larangan terbang pesawat Boeing 737 MAX setelah insiden kecelakaan di masa lalu.

Meski kesepakatan baru ini memberikan kabar baik, para pelaku usaha tetap berhati-hati. Kekhawatiran mengenai aturan pengiriman suku cadang dan jaminan perbaikan pesawat masih menjadi pertimbangan utama pihak pembeli. Transaksi skala besar ini dinilai bergantung pada kestabilan hubungan politik AS-China ke depannya.

"Informasi yang kita miliki saat ini hanyalah apa yang disampaikan oleh presiden kepada dunia tentang apa yang telah disetujui oleh China," kata Direktur Pelaksana Program Indo-Pasifik di German Marshall Fund, Bonnie Glaser.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More