Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dampak Perang di Iran, Harga Minyak Tembus 116 Dolar per Barel
ilustrasi pabrik minyak (pexels.com/Zakelj)
  • Harga minyak dunia melonjak hingga 116 dolar AS per barel setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS-Israel, memicu kekhawatiran krisis energi global.
  • Eskalasi konflik meluas dengan keterlibatan kelompok Houthi dan ancaman balasan dari AS, sementara upaya diplomatik melalui rencana 15 poin dan mediasi Pakistan belum membuahkan hasil.
  • Pasar saham Asia anjlok, harga komoditas naik tajam, dan negara-negara G7 menyiapkan langkah darurat energi untuk menghadapi dampak blokade serta lonjakan harga minyak yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesHarga minyak dunia terus melesat hingga mencapai 116 dolar AS (setara Rp1,97 juta) per barel seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Lonjakan ini memicu kekhawatiran munculnya krisis energi terbesar dalam beberapa dekade.

Patokan minyak Brent tercatat naik lebih dari 3 persen pada perdagangan Senin (30/3/2026) pagi hingga melampaui 116 dolar AS per barel. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 19 Maret 2026 saat sempat menyentuh 119 dolar AS (setara Rp2 juta) per barel, sementara sepanjang Maret Brent pernah mencapai puncak 119,50 dolar AS per barel, tertinggi sejak Juni 2022.

1. Iran menutup Selat Hormuz picu lonjakan harga

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan dari AS dan Israel. Jalur ini selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima distribusi minyak dan gas alam cair dunia, sehingga penutupan tersebut mendorong harga minyak melonjak hampir 60 persen sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026.

Kenaikan tajam terjadi setelah Iran menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan invasi darat dari AS. Ketua parlemen Iran menyebut Tehran menunggu kedatangan pasukan AS untuk kemudian membakar mereka serta menghukum sekutu regionalnya.

2. Konflik kawasan meluas tekan pasar global

ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim

Konflik kian melebar setelah kelompok Houthi yang didukung Iran meluncurkan rudal ke Israel untuk pertama kalinya dalam perang ini. Israel juga memperluas operasi militernya di Lebanon selatan, sementara tambahan 3.500 pasukan AS telah tiba di kawasan Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi Iran jika Tehran tak membuka kembali Selat Hormuz. Tenggat tersebut kemudian diperpanjang selama 10 hari, disertai usulan rencana 15 poin untuk mengakhiri konflik serta dorongan pada pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Pakistan.

Trump juga menyampaikan pandangannya terkait peluang kesepakatan dengan Iran. Ia menyebut kesepakatan bisa segera tercapai, sekaligus mengungkap keinginannya untuk mengambil minyak di Iran dalam wawancara dengan Financial Times.

“Jujur saja dengan Anda, hal favorit saya adalah mengambil minyak di Iran, tapi beberapa orang bodoh di AS bilang: ‘kenapa Anda melakukan itu?’ Tapi mereka orang-orang bodoh,” ujarnya, dikutip dari The Guardian.

Ia juga menyebut kemungkinan pihaknya akan mengambil Pulau Kharg, meski menekankan bahwa mereka memiliki banyak pilihan lain. Sementara itu, Iran menolak usulan tersebut dan menawarkan syarat gencatan senjata sendiri yang mencakup reparasi perang serta pengakuan hak pengendalian atas selat tersebut.

3. Pasar global tertekan dan risiko krisis meningkat

ilustrasi indeks pasar saham (pexels.com/Kindel Media)

Pasar saham Asia mencatat penurunan tajam pada perdagangan Senin (30/3/2026). Indeks Nikkei 225 Jepang dan KOSPI Korea Selatan turun lebih dari 4 persen, sedangkan Hang Seng Hong Kong melemah sekitar 1 persen, di tengah kekhawatiran investor terhadap eskalasi lanjutan menurut analis Deutsche Bank.

Harga Brent juga berada di jalur mencatat kenaikan bulanan terbesar sepanjang masa dengan lonjakan lebih dari 50 persen sejak awal Maret. Rekor ini melampaui kenaikan sebelumnya sebesar 46 persen yang terjadi pada September 1990 setelah invasi Kuwait oleh Saddam Hussein.

Greg Newman dari Onyx Capital Group menjelaskan dampak kekurangan pasokan mulai terasa di berbagai wilayah.

“Minyak fisik bergerak di seluruh dunia dalam siklus pemuatan, dan Eropa memerlukan waktu sekitar tiga minggu untuk benar-benar mulai merasakan efek kekurangan minyak tersebut,” kata Newman kepada Al Jazeera.

Menurut Newman, harga Brent kini mulai mencerminkan kondisi riil pasar dan diperkirakan akan terus naik menuju 120 dolar AS (setara Rp2,03 juta) per barel atau lebih. Ia menyebut kondisi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dan dampaknya akan terlihat dalam data ekonomi beberapa bulan ke depan.

Dilansir dari The Guardian, Ipek Ozkardeskaya dari Swissquote memperingatkan potensi kenaikan lebih lanjut jika konflik tak mereda. Ia menyebut harga minyak berpeluang menembus 150 dolar AS (setara Rp2,5 juta) hingga 200 dolar AS (setara Rp3,3 juta) per barel, meski kenaikan ekstrem itu berisiko menekan permintaan dan memicu resesi global.

Ozkardeskaya juga mencatat kenaikan harga aluminium lebih dari 5 persen di Asia setelah Iran menyerang produsen aluminium di Bahrain dan Uni Emirat Arab.

4. Pemerintah dan industri siapkan langkah darurat energi

ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dijadwalkan menggelar pertemuan dengan pimpinan Shell, BP, dan Equinor bersama eksekutif sektor keuangan, asuransi, serta pelayaran. Agenda tersebut difokuskan pada langkah darurat menghadapi dampak blokade Selat Hormuz.

Kanselir Inggris Rachel Reeves akan mendorong negara-negara G7 mempercepat transisi energi bersih untuk melindungi ekonomi dari lonjakan harga minyak dan gas. Reeves bersama Menteri Energi Ed Miliband juga mengikuti pertemuan virtual dengan para menteri keuangan dan energi G7.

Sumber industri memperingatkan potensi kekurangan sementara di pompa bensin Inggris akibat pasokan yang menyusut. Harga bensin rata-rata di negara tersebut telah melampaui 150 pence per liter.

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih berada jauh di bawah kondisi normal meskipun Iran mulai mengizinkan kapal non-afiliasi melintas. Sebelum konflik, jalur ini melayani sekitar 120 transit per hari menurut Windward.

Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyatakan Tehran telah memberi izin bagi 20 kapal berbendera Pakistan untuk melewati selat tersebut. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga menyebut Iran telah mengizinkan kapal Malaysia melintas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team