ilustrasi indeks pasar saham (pexels.com/Kindel Media)
Pasar saham Asia mencatat penurunan tajam pada perdagangan Senin (30/3/2026). Indeks Nikkei 225 Jepang dan KOSPI Korea Selatan turun lebih dari 4 persen, sedangkan Hang Seng Hong Kong melemah sekitar 1 persen, di tengah kekhawatiran investor terhadap eskalasi lanjutan menurut analis Deutsche Bank.
Harga Brent juga berada di jalur mencatat kenaikan bulanan terbesar sepanjang masa dengan lonjakan lebih dari 50 persen sejak awal Maret. Rekor ini melampaui kenaikan sebelumnya sebesar 46 persen yang terjadi pada September 1990 setelah invasi Kuwait oleh Saddam Hussein.
Greg Newman dari Onyx Capital Group menjelaskan dampak kekurangan pasokan mulai terasa di berbagai wilayah.
“Minyak fisik bergerak di seluruh dunia dalam siklus pemuatan, dan Eropa memerlukan waktu sekitar tiga minggu untuk benar-benar mulai merasakan efek kekurangan minyak tersebut,” kata Newman kepada Al Jazeera.
Menurut Newman, harga Brent kini mulai mencerminkan kondisi riil pasar dan diperkirakan akan terus naik menuju 120 dolar AS (setara Rp2,03 juta) per barel atau lebih. Ia menyebut kondisi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dan dampaknya akan terlihat dalam data ekonomi beberapa bulan ke depan.
Dilansir dari The Guardian, Ipek Ozkardeskaya dari Swissquote memperingatkan potensi kenaikan lebih lanjut jika konflik tak mereda. Ia menyebut harga minyak berpeluang menembus 150 dolar AS (setara Rp2,5 juta) hingga 200 dolar AS (setara Rp3,3 juta) per barel, meski kenaikan ekstrem itu berisiko menekan permintaan dan memicu resesi global.
Ozkardeskaya juga mencatat kenaikan harga aluminium lebih dari 5 persen di Asia setelah Iran menyerang produsen aluminium di Bahrain dan Uni Emirat Arab.