Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Harga Minyak Bisa Pengaruhi Nilai Mata Uang Suatu Negara?

Kenapa Harga Minyak Bisa Pengaruhi Nilai Mata Uang Suatu Negara?
Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
Intinya Sih
  • Harga minyak dunia berpengaruh besar pada nilai tukar karena sistem petrodolar membuat transaksi minyak bergantung pada dolar AS, memperkuat posisi mata uang tersebut di pasar global.
  • Penurunan harga minyak sering memicu resesi dan pelemahan mata uang di negara penghasil seperti Rusia dan Brasil, sementara kawasan Euro menghadapi risiko deflasi hingga perlu stimulus moneter.
  • Amerika Serikat kini diuntungkan dari kemandirian energi, sedangkan negara yang bergantung pada ekspor minyak rentan terhadap guncangan ekonomi, menegaskan pentingnya diversifikasi ekonomi untuk stabilitas mata uang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pergerakan harga minyak mentah dunia ternyata memiliki keterkaitan erat dengan fluktuasi nilai mata uang global. Hubungan yang sering disebut sebagai "benang tak kasat mata" ini dipicu oleh berbagai faktor.

Dilansir Investopedia, faktor yang dimaksud mulai dari distribusi sumber daya, neraca perdagangan (BOT), hingga psikologi pasar yang menjaga korelasi tersebut tetap kuat.

Keberadaan sistem petrodolar juga menjadi alasan utama mengapa harga minyak dan mata uang sulit dipisahkan. Selain itu, volatilitas harga minyak berdampak langsung pada angka inflasi dan deflasi, terutama di negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS), Rusia, dan kawasan Zona Euro.

1. Dominasi dolar AS dalam transaksi minyak dunia

Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Sejak runtuhnya standar emas Bretton Woods pada awal 1970-an, minyak mentah resmi diperdagangkan menggunakan dolar AS. Hal ini melahirkan sistem petrodolar.

Dalam sistem tersebut, negara pengimpor wajib membayar dengan dolar AS, sementara eksportir menerima pembayaran dalam mata uang yang sama. Kondisi itu memperkuat posisi dolar sebagai mata uang cadangan dunia.

Setiap perubahan harga minyak akan langsung memicu penyesuaian pada pasangan mata uang asing (forex). Dampak ini terasa sangat signifikan pada negara dengan cadangan minyak besar seperti Kanada, Rusia, dan Brasil.

Sebaliknya, negara yang minim sumber daya minyak seperti Jepang cenderung memiliki korelasi yang lebih lemah terhadap fluktuasi tersebut.

2. Efek domino anjloknya harga minyak terhadap resesi

Ilustrasi harga minyak  (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Banyak negara sempat menikmati lonjakan harga minyak pada periode 1990-an hingga pertengahan 2000-an untuk membangun infrastruktur dan militer melalui utang. Namun, beban utang tersebut menjadi bumerang setelah krisis ekonomi 2008.

Saat harga minyak jatuh pada 2014, negara ketergantungan komoditas seperti Kanada, Rusia, dan Brasil langsung terperosok ke fase resesi dan mengalami pelemahan mata uang yang tajam.

Kondisi serupa terjadi di Zona Euro. Penurunan harga minyak pada akhir 2014 memicu kekhawatiran deflasi, yang memaksa Bank Sentral Eropa (ECB) meluncurkan stimulus moneter besar-besaran atau quantitative easing (QE) pada 2015.

Meski sempat tumbuh pada 2018, ekonomi Eropa kembali terpukul pandemik COVID-19 dan invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 yang mengganggu ketahanan energi mereka.

Data menunjukkan nilai tukar EUR/USD sempat merosot tajam seiring jatuhnya harga minyak dari level 80 dolar AS ke kisaran 50 dolar AS di penghujung 2014. Tren pelemahan Euro bahkan terus berlanjut hingga sempat menyentuh angka 0,95 dolar AS per euro pada September 2022.

3. AS jadi pemain kunci dan risiko ketergantungan energi

Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

AS telah bertransformasi dari pengimpor menjadi salah satu produsen energi terbesar di dunia dengan catatan ekspor mencapai 9,58 juta barel per hari pada 2022. Kemandirian energi ini membuat dolar AS justru diuntungkan saat harga minyak turun, karena ekonomi AS yang terdiversifikasi tidak terlalu bergantung pada sektor energi.

Di sisi lain, negara yang terlalu bergantung pada ekspor minyak seperti Rusia sangat rentan terhadap guncangan ekonomi. Pada 2014, sektor energi menyumbang 65 persen ekspor Rusia, yang menyebabkan PDB mereka anjlok hingga 4,6 persen saat harga minyak turun dan sanksi Barat mulai diterapkan.

Pengalaman global menunjukkan diversifikasi ekonomi lebih menentukan kekuatan mata uang dibandingkan volume ekspor semata.

Sebagai contoh, rubel Rusia sempat sulit diperdagangkan pada 2015 akibat masalah likuiditas, namun kembali menguat pada 2022 setelah muncul kebijakan wajib bayar ekspor minyak menggunakan mata uang rubel.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in Business

See More