Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Danantara Berminat Jadi Pemegang Saham BEI Usai Demutualisasi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat Konferensi Pers di Wisma Danantara. (IDN Times/Triyan).

Intinya sih...

  • Demutualisasi bisa tingkatkan transparansi bursa: Rosan menyatakan, demutualisasi BEI yang dipercepat merupakan langkah positif untuk meningkatkan kualitas dan transparansi bursa di Indonesia.

  • Pertimbangkan beberapa opsi: Danantara sedang mempertimbangkan beberapa opsi, apakah melalui mekanisme Initial Public Offering (IPO) BUMN atau lainnya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyatakan terbuka untuk menjadi pemegang saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah proses demutualisasi selesai pada kuartal I-2026. Hal ini diungkapkan oleh CEO Danantara, Rosan Roeslani usai konferensi pers di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Rosan menegaskan Danantara mendukung percepatan demutualisasi yang tengah berlangsung di BEI.

“Dengan adanya program demutualisasi yang akan dipercepat, kami tentunya terbuka untuk berpartisipasi. Banyak sovereign wealth fund dari negara lain juga telah menjadi bagian dari Bursa (di negara tersebut)," ungkapnya.

Demutualisasi Bursa Efek adalah proses perubahan struktur kepemilikan Bursa Efek dari organisasi yang berbasis keanggotaan (mutual) menjadi entitas korporasi yang berbasis saham (stock company). Secara fundamental, proses ini memisahkan kepemilikan bursa (siapa yang memiliki bursa) dari keanggotaan atau hak berdagang (siapa yang berhak menjadi Anggota Bursa atau Perusahaan Sekuritas).

1. Demutualisasi bisa tingkatkan transparansi bursa

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Rosan menyatakan, demutualisasi BEI yang dipercepat merupakan langkah positif untuk meningkatkan kualitas dan transparansi bursa di Indonesia.

"Kita akan terbuka, nanti mungkin bursanya melihat bahwa ini adalah sesuatu yang sangat positif, yang memang yang perlu kita lakukan ke depannya agar bursa kita ini menjadi lebih baik, lebih dalam dan memberikan transparansi yang lebih meningkat," ujarnya.

2. Pertimbangkan beberapa opsi

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, pada cara opening ceremony Paviliun Indonesia di Davos, Swis pada Rabu (21/01/2026). (IDN Times/Alya Achyarini)

Rosan mengungkapkan, Danantara sedang mempertimbangkan beberapa opsi, apakah melalui mekanisme Initial Public Offering (IPO) BUMN atau lainnya. Mekanisme tersebut masih dikaji dengan melihat struktur terbaik dalam proses demutualisasi.

"Kami akan lihat nanti. Yang terpenting adalah keberanian kami untuk menjadi lebih baik dan lebih terbuka," ujar Rosan.

Namun Rosan menegaskan, kepemilikan saham BEI bisa dilakukan secara langsung oleh Danantara, tanpa harus melalui perusahaan sekuritas BUMN.

“Kami bisa langsung masuk, tanpa harus melalui perusahaan sekuritas milik negara,” tegasnya.

Sementara itu, Morgan Stanley Capital International (MSCI) sebagai lembaga yang mengawasi pasar modal global telah mengemukakan beberapa kekhawatiran terkait pasar modal Indonesia. Salah satu isu utama yang diangkat adalah rendahnya free float atau porsi saham yang diperdagangkan secara publik yang tidak mencapai 15 persen, angka yang dianggap ideal untuk memastikan likuiditas pasar yang sehat.

Selain itu, MSCI juga menilai transparansi kepemilikan saham di pasar modal Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini menyebabkan ketidakjelasan mengenai siapa yang mengendalikan saham-saham tertentu di pasar, yang bisa berpotensi menciptakan kondisi pasar yang kurang stabil.

Dengan rendahnya free float dan transparansi yang minim ini memunculkan risiko besar dalam hal pembentukan harga saham yang tidak wajar. Pasar yang kurang transparan dapat dengan mudah dimanipulasi, yang pada gilirannya bisa merugikan investor dan merusak reputasi pasar modal Indonesia.

3. Demutualisasi bisa tarik lebih banyak investasi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (IDN Times/Triyan).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah akan melakkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga kredibilitas pasar modal. Salah satunya, melalui percepatan demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI), yang sudah diumumkan dapat segera dilakukan tahun ini.

"Demutualisasi bisa langsung berproses di tahun ini. Dan ini adalah transformasi struktural dimana mengurangi benturan kepentingan di bursa efek antara pengurus bursa dengan anggota bursa dan juga untuk mencegah praktik pasar yang tidak sehat," kata Airlangga.

Di sisi lain, demutualisasi ini diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang investasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, termasuk dari lembaga seperti Danantara dan agensi lainnya. Proses ini juga sudah diatur dalam Undang-Undang P2SK, dan dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya berupa go public. Selain itu, pemerintah juga berkomitmen untuk memperkuat tata kelola (governance) dan keterbukaan publik di pasar modal.

"Kami menjamin perlindungan bagi seluruh investor dengan menjaga tata kelola yang baik dan keterbukaan informasi yang transparan," ujar Airlangga.

"Terkait dengan penguatan governance dan keterbukaan publik, pemerintah menjamin perlindungan bagi seluruh investor dengan menjaga tata kelola dan keterbukaan informasi," sambungnya.

Editorial Team