ilustrasi investasi (unsplash.com/@towfiqu999999)
Di sisi lain, Pemerintah juga menawarkan kerja sama pengelolaan komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, hingga logam tanah jarang yang menjadi kunci dalam transisi energi global.
Kerja sama kedua negara turut mencakup sektor batu bara, gas alam cair (LNG), serta proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC), termasuk PLTSa Legok Nangka dan PLTP Sarulla.
Henry menilai langkah ini sejalan dengan konsep pertumbuhan berbasis nilai tambah, terutama melalui hilirisasi mineral dan penguasaan teknologi.
“Upaya mengamankan teknologi dan hilirisasi akan mendorong pertumbuhan dari dalam secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menilai kepastian hukum dalam proyek strategis seperti Blok Masela menjadi sinyal positif bagi investor global terhadap kredibilitas Indonesia.
Namun demikian, ia mengingatkan implementasi kerja sama tetap harus dikawal agar selaras dengan kepentingan nasional dan keberlanjutan.
Menurutnya, diplomasi energi ini berpotensi menjadi fondasi bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di kawasan Indo-Pasifik sekaligus menjadi pemain penting dalam ekosistem energi global.