Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Korsel Bakal Lakukan Penghematan Energi akibat Perang Iran

Korsel Bakal Lakukan Penghematan Energi akibat Perang Iran
potret Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung (commons.wikimedia.org/경기도 뉴스포털)
Intinya Sih
  • Pemerintah Korsel di bawah Presiden Lee Jae Myung menginstruksikan penghematan energi nasional untuk menekan penggunaan bahan bakar akibat dampak perang Iran melawan AS dan Israel.
  • Menteri Energi Kim Sung-whan menyebut pembatasan kendaraan dan listrik akan diterapkan, termasuk imbauan bagi 50 perusahaan swasta agar menurunkan konsumsi energi.
  • Korsel terdampak karena 70 persen impor minyaknya berasal dari Selat Hormuz yang kini dijaga ketat Iran, membuat pasokan terganggu dan harga minyak global melonjak tajam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Korea Selatan (Korsel) dikabarkan bakal melakukan upaya penghematan energi. Langkah ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Korsel, Lee Jae Myung, yang dirilis pada Selasa (24/3/2026). 

Langkah ini dilakukan untuk menekan penggunaan bahan bakar minyak dalam negeri. Sebab, persediaan minyak di Korsel juga ikut berkurang imbas perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang kini sedang terjadi di Timur Tengah.

1. Upaya hemat energi dilakukan dengan berbagai cara

Industri pengolahan minyak dan gas.
ilustrasi energi (pexels.com/Tom Fisk)

Dalam pernyataannya, Menteri Energi Korsel, Kim Sung-whan, mengatakan, penghematan energi bakal dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan membatasi penggunaan kendaraan oleh kementerian dan lembaga negara. Penghematan energi juga bakal dilakukan dengan membatasi penggunaan listrik dan kendaraan bagi warga sipil. 

Namun, Sung-whan menjelaskan, pembatasan penggunaan kendaraan bagi warga sipil hanya akan bersifat sukarela alias tidak wajib. Sebab, saat ini, persediaan minyak nasional masih bisa memenuhi kebutuhan dan belum mencapai tahap krisis. Meski begitu, kebijakan tersebut akan diwajibkan ketika stok minyak semakin menipis. 

Selain dengan berbagai cara tadi, menurut Kim, penghematan juga akan dilakukan dengan cara menurunkan konsumsi energi oleh perusahaan-perusahaan swasta. Jadi, pemerintah bakal meminta 50 perusahaan swasta di Korsel untuk menghemat konsumsi energi.

2. Korsel mengimpor 70 persen minyak dari Selat Hormuz

Selat Hormuz.
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

Sebagai informasi, Korsel merupakan salah satu dari banyak negara yang juga mengalami kekurangan minyak imbas perang Iran melawan AS dan Israel. Imbas perang tersebut, Iran memperketat pengamanan di Selat Hormuz. Langkah ini menyebabkan banyak kapal tidak bisa mengekspor minyak dari Timur Tengah ke pasar global.

Peristiwa ini langsung berpengaruh terhadap persediaan minyak nasional di Korsel. Sebab, negara berjuluk Negeri Ginseng tersebut mengimpor sekitar 70 minyak dari kapal-kapal yang berlayar di Selat Hormuz.  

Selain itu, peristiwa ini juga membuat harga minyak global sempat mengalami kenaikan signifikan. Pada awal Maret 2026 lalu, misalya, harga minyak dunia sempat naik menjadi 120 dolar AS atau setara Rp2 juta per barelnya. Itu merupakan salah satu kenaikan harga minyak tertinggi dalam sejarah. 

3. Iran sudah mengizinkan kapal dari negara-negara tertentu untuk berlayar di Selat Hormuz

Kapal sedang berlayar di laut.
ilustrasi kapal tanker minyak (pexels.com/abdo alshreef)

Saat ini, Iran sebetulnya sudah mengizinkan kapal minyak untuk berlayar di Selat Hormuz. Namun, Iran tetap menutup selat tersebut untuk AS dan Israel karena mereka merupakan negara yang memicu terjadinya perang.

Dilansir Jerusalem Post, agar bisa berlayar di Selat Hormuz, kapal-kapal harus meminta izin kepada militer Iran terlebih dahulu. Ini dilakukan karena Iran masih memperketat pengamanan di sana.

Meski sudah diizinkan Iran, banyak kapal-kapal dagang, termasuk kapal minyak, yang hingga kini masih enggan berlayar di Selat Hormuz. Sebab, situasi di selat tersebut masih belum aman karena perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlanjut.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More