ilustrasi pasar tradisional (unsplash.com/Devi Puspita Amartha Yahya)
Bank of America mencatat adanya fenomena “trading-down” dalam kebiasaan belanja masyarakat. Konsumen kini lebih sering memilih toko dengan harga terjangkau dibanding toko premium. Pertumbuhan belanja di toko murah jauh lebih tinggi selama beberapa tahun terakhir. Para ekonom menilai hal ini sebagai strategi bertahan di tengah inflasi.
Kelas menengah dan kelas atas mulai menunjukkan pola belanja yang semakin mendekat karena sama-sama menahan pengeluaran di tengah tekanan harga. Namun, kelompok berpenghasilan rendah tetap mencatat pertumbuhan belanja tertinggi di toko murah. Hal ini menunjukkan bahwa kelas menengah mulai mengubah kebiasaan belanjanya ke arah yang lebih hemat, meski belum sedalam kelompok bawah. Jika pendapatan tidak segera membaik, strategi berhemat ini bisa berubah dari pilihan menjadi keharusan.
Ekonomi E-shaped menggambarkan bahwa ketimpangan kini gak hanya terjadi antara si kaya dan si miskin, tapi juga melibatkan kelas menengah. Analisis dari Bank of America, Federal Reserve, dan Federal Reserve Bank of New York menunjukkan bahwa perbedaan belanja, upah, dan kekayaan semakin melebar. Para ekonom menilai kondisi ini sebagai sinyal bahwa stabilitas ekonomi membutuhkan perhatian serius.
Untuk kamu yang berada di kelas menengah, fenomena ini menjadi pengingat penting untuk mengelola keuangan dengan lebih hati-hati. Dengan memahami arah perubahan ekonomi, kamu bisa lebih siap menghadapi tantangan finansial di masa depan.