Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Perbedaan Minsdset antara Kaum Miskin, Kelas Menengah, dan Kaum Kaya

5 Perbedaan Minsdset antara Kaum Miskin, Kelas Menengah, dan Kaum Kaya
ilustrasi sukses (pexels.com/fauxels)
Intinya sih...
  • Kaum miskin, kelas menengah, dan kaum kaya memiliki pandangan waktu yang berbeda
  • Sikap terhadap risiko memengaruhi peluang hidup masing-masing kelompok ekonomi
  • Pendidikan dan keyakinan tentang kendali hidup juga mencerminkan perbedaan pola pikir
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Perbedaan antara kaum miskin, kelas menengah, dan kaum kaya tidak semata-mata diukur dari besaran penghasilan atau aset yang dimiliki. Dalam kajian psikologi finansial, latar belakang ekonomi terbukti memengaruhi cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, dan memandang peluang hidup.

Investor saham dan penulis New Trader Rich Trader, Steve Burns melalui artikel yang dilansir New Trader U menjelaskan, kondisi ekonomi membentuk pola kognitif dan respons emosional terhadap uang, waktu, serta risiko.

Siapa yang tergolong miskin, menengah, atau kaya dalam perspektif ini ditentukan oleh kebiasaan berpikir yang terus terbentuk dari pengalaman hidup sehari-hari. Kapan pola pikir tersebut terbentuk biasanya berkaitan erat dengan situasi kelangkaan atau kelimpahan sumber daya yang dialami seseorang sejak lama.

Untuk memahami bagaimana perbedaan pola pikir itu bekerja dalam kehidupan nyata, simak penjelasan lengkapnya dalam lima poin berikut ini.

Table of Content

1. Cara memandang waktu membentuk arah hidup

1. Cara memandang waktu membentuk arah hidup

5 Perbedaan Minsdset antara Kaum Miskin, Kelas Menengah, dan Kaum Kaya
ilustrasi waktu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kaum miskin umumnya memandang waktu dalam jangka yang sangat pendek karena tekanan kebutuhan sehari-hari. Fokus utama mereka adalah memastikan kebutuhan dasar hari ini atau minggu ini terpenuhi. Kondisi finansial yang tidak stabil membuat perencanaan jangka panjang terasa sulit dan berisiko. Akibatnya, banyak keputusan diambil secara reaktif demi bertahan hidup.

Kelas menengah memiliki cara pandang waktu yang lebih terstruktur dan linier. Mereka terbiasa merencanakan hidup berdasarkan siklus bulanan atau tahunan, seperti gaji, cicilan, dan target karier. Waktu dipahami sebagai alat untuk mencapai stabilitas dan kenyamanan hidup. Pola ini membuat kelas menengah cenderung bermain aman dalam mengambil keputusan.

Kaum kaya melihat waktu sebagai aset jangka panjang yang nilainya bisa terus bertumbuh. Mereka berpikir dalam rentang puluhan tahun bahkan lintas generasi. Setiap keputusan diarahkan untuk membangun sistem yang berkelanjutan, bukan sekadar hasil instan. Perspektif ini membuat kaum kaya lebih sabar dan strategis dalam mengelola sumber daya.

2. Sikap terhadap risiko menentukan peluang

5 Perbedaan Minsdset antara Kaum Miskin, Kelas Menengah, dan Kaum Kaya
ilustrasi berpikir (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Bagi kaum miskin, risiko sering kali dipersepsikan sebagai ancaman langsung terhadap kelangsungan hidup. Tanpa cadangan finansial yang memadai, kesalahan kecil bisa berdampak besar. Hal ini membuat mereka cenderung sangat menghindari risiko atau justru terjebak pada keputusan spekulatif yang terpaksa. Tekanan psikologis ini membatasi ruang untuk mencoba hal baru.

Kelas menengah memandang risiko sebagai sesuatu yang harus diminimalkan. Stabilitas penghasilan, pekerjaan tetap, dan perlindungan asuransi menjadi prioritas utama. Risiko pasar atau peluang dengan ketidakpastian tinggi sering dihindari karena dianggap mengganggu rasa aman. Sikap ini membuat kelas menengah relatif stabil, tetapi pertumbuhannya cenderung lambat.

Kaum kaya memiliki pandangan berbeda terhadap risiko karena memiliki bantalan finansial yang kuat. Mereka mampu membedakan risiko sembrono dan risiko yang terukur. Risiko dipandang sebagai bagian dari proses pertumbuhan, bukan ancaman yang harus dihindari sepenuhnya. Pendekatan ini membuka lebih banyak peluang ekonomi jangka panjang.

3. Tujuan pendidikan mencerminkan kebutuhan

5 Perbedaan Minsdset antara Kaum Miskin, Kelas Menengah, dan Kaum Kaya
ilustrasi wisuda (freepik.com/Freepik)

Kaum miskin umumnya melihat pendidikan sebagai sarana untuk bertahan hidup. Fokus utama mereka adalah memperoleh keterampilan praktis agar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Pendidikan dinilai dari manfaat langsung yang bisa dirasakan dalam waktu dekat. Pilihan pendidikan sering kali dibatasi oleh kondisi ekonomi.

Kelas menengah menjadikan pendidikan sebagai alat memperoleh legitimasi dan status sosial. Gelar dan sertifikasi dianggap sebagai bukti kompetensi dan jalan menuju keamanan karier. Tidak jarang, pendidikan tinggi ditempuh dengan beban utang yang besar. Pendidikan formal sering disamakan dengan nilai diri dan keberhasilan.

Kaum kaya memandang pendidikan sebagai proses penguasaan pengetahuan dan pembangunan jaringan. Mereka lebih menekankan literasi finansial, kemampuan berpikir kritis, dan pemecahan masalah kompleks. Pendidikan tidak selalu harus formal, tetapi harus relevan dan aplikatif. Bagi kaum kaya, belajar adalah proses seumur hidup.

4. Keyakinan tentang kendali hidup memengaruhi hasil

5 Perbedaan Minsdset antara Kaum Miskin, Kelas Menengah, dan Kaum Kaya
ilustrasi berpikir (pexels.com/Thirdman)

Kaum miskin cenderung memiliki keyakinan hidup mereka dikendalikan oleh faktor eksternal. Nasib, keberuntungan, dan sistem sosial sering dianggap sebagai penentu utama. Pengalaman kegagalan berulang dapat memperkuat rasa tidak berdaya. Pola pikir ini membuat perubahan terasa sulit dicapai.

Kelas menengah percaya kerja keras akan berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh. Mereka memiliki lokus kendali internal yang linier dan berbasis usaha pribadi. Jam kerja panjang dan pengorbanan dianggap sebagai jalan utama menuju kesuksesan. Namun, pola ini sering membatasi pertumbuhan karena bergantung pada tenaga sendiri.

Kaum kaya memiliki keyakinan kendali hidup bisa diperluas melalui sistem dan pengaruh. Mereka tidak hanya bekerja lebih keras, tetapi juga lebih cerdas dengan memanfaatkan teknologi dan kolaborasi. Pendapatan tidak selalu dikaitkan dengan jam kerja. Pola pikir ini memungkinkan hasil yang bersifat eksponensial.

5. Pola relasi sosial mencerminkan strategi hidup

5 Perbedaan Minsdset antara Kaum Miskin, Kelas Menengah, dan Kaum Kaya
ilustrasi berbicara (pexels.com/Henri Mathieu-Saint-Laurent)

Kaum miskin membangun relasi sosial berbasis solidaritas dan kedekatan emosional. Lingkaran sosial berfungsi sebagai sistem dukungan untuk bertahan dalam kondisi sulit. Sumber daya sering dibagi demi menjaga kebersamaan. Namun, ikatan ini terkadang membuat mobilitas individu menjadi lebih rumit.

Kelas menengah membangun relasi sosial berdasarkan kesamaan status dan gaya hidup. Lingkungan sosial sering mempengaruhi pola konsumsi dan pengeluaran. Tekanan untuk terlihat setara mendorong inflasi gaya hidup. Relasi sosial lebih banyak berfungsi sebagai validasi sosial.

Kaum kaya menjadikan relasi sosial sebagai aset strategis. Mereka sengaja berada di lingkungan yang mendorong pertumbuhan dan pembelajaran. Hubungan dibangun atas dasar nilai, bukan sekadar status. Pola ini membuka akses terhadap peluang dan wawasan baru.

Perbedaan antara kaum miskin, kelas menengah, dan kaum kaya menurut psikologi menunjukkan bahwa kondisi ekonomi sangat berkaitan dengan pola pikir. Cara seseorang memandang waktu, risiko, pendidikan, dan relasi sosial membentuk arah hidupnya secara signifikan. Dengan memahami kerangka berpikir ini, perubahan ekonomi dapat dimulai dari perubahan cara memandang dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

Berapa Anggaran Angpau Imlek 2026 yang Pas dan Pantas?

05 Feb 2026, 05:05 WIBBusiness