Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS. (Youtube.com/Sekretaris Kabinet)
Sementara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan sejumlah skenario menghadapi kenaikan harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Dalam skenario terburuk, defisit APBN berpotensi menembus lebih dari 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Adapun dalam asumsi makro APBN 2026, pemerintah menetapkan harga minyak mentah dunia (Indonesia Crude Price/ICP) sebesar 70 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah Rp16.500 per dolar AS.
Airlangga menyebut, selisih harga minyak Brent dengan ICP biasanya sekitar 3 dolar AS per barel. Dia menjelaskan, pemerintah menyiapkan tiga skenario berdasarkan durasi konflik di Timur Tengah, yakni selama 5 bulan, 6 bulan, dan 10 bulan.
Pada skenario perang terjadi selama enam bulan, harga minyak dapat naik hingga sekitar 107 dolar AS per barel, sebelum kemudian kembali menurun. Sementara pada skenario perang berlangsung hingga 10 bulan harga bahkan dapat meningkat hingga 130 dolar AS per barel dan berada di sekitar 125 dolar AS per barel pada akhir Desember 2025.
“Nah pembelian kami di bulan Januari-Februari itu angkanya 64,41 dolar AS per barel dan 68,79 dolar AS per barel. Ini realisasi Pak, jadi realisasi di bawah APBN yang 70 dolar AS per barel,” kata Airlangga di Sidang Kabinet Paripurna, Jumat, 13 Maret 2026.
Airlangga menjelaskan, pada skenario pertama, apabila ICP mencapai sekitar 86 dolar AS per barel dan kurs rupiah melemah ke Rp17 ribu per dolar AS, maka defisit APBN berpotensi mencapai 3,18 persen dari PDB.
Pada skenario kedua atau moderat, jika ICP menembus 97 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah mencapai Rp17.300 per dolar AS, dengan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen serta imbal hasil SBN 7,2 persen, defisit APBN diperkirakan meningkat hingga 3,53 persen.
Sedangkan, dalam skenario ketiga atau terburuk, ketika ICP mencapai 115 dolar AS per barel dan kurs rupiah melemah hingga Rp17.500 per dolar AS, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen dan imbal hasil SBN 7,2 persen, defisit APBN dapat melebar hingga 4,06 persen.
Ia menilai, menjaga defisit APBN di bawah 3 persen akan menjadi tantangan apabila kondisi tersebut benar-benar terjadi.
"Jadi, artinya dengan berbagai skenario ini defisit yang 3 persen itu sulit kami pertahankan. Kecuali kami mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan Pak Presiden. Nah, ini beberapa skenario yang mungkin perlu kami rapatkan secara terbatas,” tutur Airlangga.