Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ekspor Tuna RI Lampaui Rp16,67 T, Industri Soroti Inovasi Produk
Ikan tuna hasil tangkapan nelayan di perairan Indonesia. (dok. KKP)
  • Ekspor tuna Indonesia tembus lebih dari Rp16,67 triliun pada 2025 dengan pertumbuhan 7,46 persen, menandakan pergeseran menuju produk bernilai tambah seperti fillet dan olahan.
  • Pemerintah dan pelaku industri memperkuat tata kelola perikanan melalui regulasi berbasis kuota, sertifikasi internasional, serta pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk transparansi stok ikan.
  • Inovasi pemanfaatan menyeluruh tuna digencarkan lewat kolaborasi lintas sektor, menghasilkan produk turunan seperti kolagen dan biopeptida yang berpotensi tinggi di pasar kesehatan dan gaya hidup global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Industri tuna Indonesia memasuki fase baru transformasi. Dengan nilai ekspor yang melampaui 1 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau melebihi Rp16,67 triliun pada 2025, sektor itu tidak dinilai tak hanya bertumpu pada volume produksi, namun mulai bergerak menuju industri bernilai tambah.

Menurut Indonesia Tuna Consortium Lead, Thilma Komaling, industri bernilai tambah itu mengedepankan keberlanjutan, inovasi, dan pendekatan berbasis pasar. Dia menyoroti pendekatan berbasis nilai menjadi kebutuhan mendesak di tengah tekanan terhadap stok ikan.

"Saat ini, 40-50 persen bagian tuna belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki potensi ekonomi tinggi," kata Thilma dalam Tuna Talks 2026 bertajuk 'From Ocean Science to (Pop) Culture: Reimagining Indonesia’s Tuna Future' yang diselenggarakan Tuna Consortium dalam rangka World Tuna Day, dikutip Kamis (6/5/2026).

1. Kinerja ekspor tuna terus tumbuh

Tuna Talks 2026 bertajuk 'From Ocean Science to (Pop) Culture: Reimagining Indonesia’s Tuna Future' yang diselenggarakan Tuna Consortium dalam rangka World Tuna Day, Selasa (5/5/2026). (dok. Indonesia Tuna Consortium)

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), kinerja ekspor tuna Indonesia menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sekitar 7,46 persen di sepanjang 2021-2025. Amerika Serikat, Thailand, dan Jepang menjadi pasar utama dengan kontribusi masing-masing sebesar 19,59 persen; 16,38 persen; dan 15,58 persen dari total nilai ekspor tuna Indonesia yang mencapai 1,038 miliar dolar AS pada 2025.

Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag, Ari Satria mengatakan, capaian itu menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global.

"Dengan nilai ekspor yang telah melampaui 1 miliar dolar AS pada 2025, sektor tuna memiliki potensi besar untuk terus berkembang melalui diversifikasi produk, peningkatan kualitas, dan penguatan akses pasar global," ujar Ari.

Kemendag melihat produk bernilai tambah seperti tuna olahan dan fillet mulai mendominasi ekspor, menandakan pergeseran dari komoditas mentah menuju produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

2. Pengelolaan perikanan perlu adopsi teknologi

Ikan tuna sirip biru yang merupakan spesies tuna terbesar di dunia. (dok. DKP Pemprov Jatim)

Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap produk hasil laut berkelanjutan, aspek tata kelola dan transparansi menjadi kunci. Oleh sebab itu, pengelolaan perikanan perlu diperkuat melalui regulasi berbasis kuota, pengawasan, serta sertifikasi internasional.

Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Syarif Abd. Raup mengatakan, hal itu perlu dilakukan untuk memastikan keberlanjutan sumber daya sekaligus menjaga daya saing Indonesia di pasar global.

"Pemerintah terus memperkuat tata kelola perikanan tuna melalui regulasi berbasis kuota, pengawasan, dan sertifikasi internasional,” tutur Syarif.

Adapun, pemanfaatan teknologi dan data juga mulai memainkan peran penting dalam transformasi industri tuna.

Shinta Yuniarta dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara menyebutkan, penggunaan sistem digital dan kecerdasan buatan memungkinkan pengumpulan data perikanan secara lebih akurat dan real-time.

"Hal ini penting untuk memastikan pengelolaan stok ikan yang berkelanjutan sekaligus mendukung transparansi dalam rantai pasok," ucap dia.

3. Inovasi harus dilakukan secara menyeluruh

ilustrasi ikan tuna (pexels.com/Dominiquemel16 Ramos)

Selain penguatan tata kelola, inovasi pemanfaatan menyeluruh atau 100 persen utilization menjadi strategi penting dalam meningkatkan nilai tambah. Selama ini, sekitar 40-50 persen bagian tuna seperti kulit, tulang, dan sisik belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki potensi ekonomi tinggi.

Produk turunan seperti kolagen, gelatin, biopeptida, hingga bahan farmasi dinilai memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan produk segar atau beku. Bahkan, pasar global kolagen diproyeksikan melampaui 9 miliar dolar AS pada 2030.

Dalam praktiknya, inovasi mulai dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satunya kolaborasi antara Collabit yang berbasis di Bitung, Sulawesi Utara, dengan restoran Padang Merdeka melalui menu 'Ayam Pop + Tuna Collagen' yang mengintegrasikan manfaat nutrisi tuna ke dalam hidangan populer.

Selain itu, Ocean Pure yang berbasis di Banda Aceh juga mengembangkan produk kolagen berbasis ikan untuk kebutuhan kesehatan dan gaya hidup.

Founder & CEO Collabit, Michella Irawan mengatakan, inovasi itu menjadi langkah awal untuk membawa manfaat tuna lebih dekat ke masyarakat.

"Kami melihat potensi besar dari pemanfaatan tuna secara menyeluruh, termasuk melalui pengembangan kolagen yang dapat diaplikasikan dalam berbagai produk pangan dan kesehatan," ucap Michella.

Sementara itu, Science Advisor Tuna Consortium sekaligus Chair Tuna Talks 2026, Budy Wiryawan menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dalam pengembangan industri.

"Dengan inovasi dan riset, kita dapat memperluas pemanfaatan tuna jauh melampaui konsumsi pangan. Ini bukan hanya soal nilai ekonomi, tetapi juga keberlanjutan dan resonansi kebudayaan kelautan," ucap Budy.

Editorial Team