Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gedung Putih Tekan Perusahaan Migas AS Kembali Investasi di Venezuela
ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/chris robert)

Intinya sih...

  • AS dorong perusahaan minyak klaim aset: Pemerintah AS mendorong perusahaan minyak besar kembali beroperasi di Venezuela. Perusahaan seperti Chevron, Exxon Mobil, dan ConocoPhillips mengalami sengketa atas nasionalisasi aset mereka

  • Perusahaan minyak AS diminta biayai sendiri investasi awal untuk kembalikan operasi di Venezuela: Gedung Putih menuntut perusahaan minyak AS menyediakan modal awal untuk membangun infrastruktur industri minyak di Venezuela

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS), pada Senin (5/1/2026) mendorong perusahaan minyak besar asal AS untuk segera kembali beroperasi di Venezuela. Langkah ini bertujuan agar mereka dapat mengajukan klaim kompensasi atas aset yang disita sekitar dua dekade lalu oleh pemerintahan Hugo Chávez.

Pejabat dari Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS telah menyampaikan pesan tersebut kepada para eksekutif perusahaan minyak besar dalam beberapa minggu terakhir. Pemerintah menilai keterlibatan perusahaan energi Amerika diperlukan untuk menghidupkan kembali produksi minyak Venezuela, yang sempat menjadi salah satu tertinggi di dunia, namun menurun tajam akibat sanksi dan salah urus selama bertahun-tahun.

1. AS dorong perusahaan minyak klaim aset

Perusahaan minyak asal Amerika Serikat, Chevron. (Facebook.com/Chevron)

Pada awal 2000-an, pemerintahan Presiden Hugo Chávez di Venezuela melakukan nasionalisasi besar-besaran terhadap aset perusahaan minyak internasional yang menolak memberikan kontrol operasional lebih besar kepada perusahaan negara PDVSA. Dalam situasi tersebut, Chevron memilih bernegosiasi dan membentuk usaha patungan, sementara Exxon Mobil dan ConocoPhillips keluar dari negara itu dan membawa sengketa ke proses arbitrase internasional.

Perusahaan ConocoPhillips telah berupaya selama bertahun-tahun memulihkan sekitar 12 miliar dolar AS (Rp201 triliun) sebagai kompensasi atas nasionalisasi aset mereka, sedangkan Exxon Mobil menuntut lebih dari 1,65 miliar dolar AS (Rp27,6 triliun) melalui pengadilan arbitrase internasional.

Presiden Donald Trump mulai kembali menyinggung kasus ekspropriasi tersebut pada Desember 2025 lalu ketika memerintahkan blokade terhadap kapal tanker minyak Venezuela yang dikenai sanksi. Dalam pernyataannya setelah penangkapan Nicolás Maduro oleh pasukan AS, Trump menyebut bahwa perusahaan-perusahaan minyak Amerika siap kembali berinvestasi miliaran dolar di Venezuela untuk menghidupkan kembali industri energi negara itu.

2. Perusahaan minyak AS diminta biayai sendiri investasi awal untuk kembalikan operasi di Venezuela

ilustrasi kilang minyak (unsplash.com/Patrick Hendry)

Pejabat Gedung Putih menyatakan, perusahaan minyak asal AS yang ingin kembali beroperasi di Venezuela harus menyediakan modal awal secara mandiri untuk membangun kembali infrastruktur industri minyak negara tersebut. Ketentuan ini menjadi syarat utama agar mereka dapat mengajukan klaim kompensasi atas aset yang disita selama masa nasionalisasi di era Hugo Chávez.

Namun, investasi ini dianggap berisiko tinggi dan sangat mahal, terutama bagi perusahaan seperti ConocoPhillips, mengingat skala kerusakan fasilitas produksi dan jaringan distribusi di Venezuela.

“ConocoPhillips sedang memantau perkembangan di Venezuela dan implikasinya terhadap pasokan energi global serta stabilitas wilayah. Terlalu dini untuk berspekulasi tentang aktivitas atau investasi bisnis masa depan,” ujar juru bicara ConocoPhillips.

3. Produksi minyak Venezuela anjlok meski punya cadangan terbesar dunia

ilustrasi kilang minyak bumi (pexels.com/Мирон Гиндин)

Venezuela dikenal memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun produksi negara itu telah anjlok drastis akibat salah kelola, kurangnya investasi, dan sanksi ekonomi AS. Pada puncaknya pada 1970-an, produksi minyak Venezuela mencapai sekitar 3,5 juta barel per hari, lalu turun di bawah 2 juta barel pada dekade 2010-an. Tahun lalu, rata-rata produksi hanya sekitar 1,1 juta barel per hari.

Perusahaan minyak yang berencana kembali beroperasi di negara tersebut dihadapkan pada banyak tantangan, meliputi risiko keamanan, infrastruktur yang rusak, ketidakpastian hukum terkait rezim Maduro, serta ketidakstabilan politik jangka panjang. Para analis memperkirakan bahwa peningkatan signifikan dalam produksi baru dapat tercapai dalam beberapa tahun, bahkan jika investasi segera dimulai.

Saat ini, Chevron masih menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar asal AS yang beroperasi di Venezuela berkat lisensi khusus dari pemerintah AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team