Ilustrasi mitra pengemudi GoTo (dok. GoTo)
Agus menyatakan, ia cukup senang dengan perkembangan transformasi yang terjadi di GoTo sepanjang 2025, di mana perusahaan berhasil mencapai adjusted EBITDA sebesar Rp2 triliun.
Sebagai informasi, adjusted EBITDA adalah ukuran laba operasional perusahaan yang tidak memperhitungkan biaya bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Dia menjelaskan, pada awal 2025, adjusted EBITDA hanya berada di kisaran Rp1,4 triliun hingga Rp1,6 triliun.
Kemudian setelah lewat pertengahan tahun, target tersebut direvisi menjadi Rp1,8 triliun hingga Rp1,9 triliun, sebelum akhirnya ditutup pada angka Rp2 triliun.
"Dan saya senang karena Rp2 triliun itu penyokong utamanya adalah di Gojek, di ODS (On-Demand Services), di mana itu memberikan kontribusi hampir Rp1,5 triliun dan Rp400 miliar itu dari GoPay dan GoTo Financial. Jadi kurang lebih sebesar Rp2 triliun," tutur Agus.
Berdasarkan capaian adjusted EBITDA sebesar Rp2 triliun pada 2025, Agus memproyeksikan adjusted EBITDA perusahaan pada tahun ini akan berada di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Pada kesempatan tersebut, Agus juga menyampaikan rasa syukurnya karena ekosistem GoTo selalu mendapatkan dukungan, perhatian, dan pengawalan. Dia menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh manajemen bekerja secara profesional serta menjaga transparansi sebagai perusahaan publik.
"Karena saya sangat menekankan supaya semua manajemen bekerja profesional dan kita juga transparan sebagai publik," kata mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) itu.