Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Emas dan Perak Ambruk setelah Capai Rekor Tertinggi
ilustrasi koin emas dan perak (unsplash.com/Dash Cryptocurrency)

Intinya sih...

  • Kebijakan Trump memicu penguatan dolar AS

  • Analis menilai koreksi terjadi setelah lonjakan ekstrem

  • Faktor fundamental pendukung dinilai tetap kuat

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesHarga emas dan perak kembali menghadapi gelombang aksi jual cukup kuat pada Senin (2/2/2026), sehingga tekanan kerugian kian membesar dibandingkan pelemahan tajam sehari sebelumnya. Kedua logam mulia tersebut sempat melonjak dan mencatat rekor tertinggi dalam beberapa hari terakhir. Harga spot emas lalu jatuh sekitar 5 persen ke level 4.617,07 dolar AS per ounce (setara Rp77,55 juta), setelah sebelumnya merosot lebih dari 10 persen.

Meski demikian, dalam hitungan sepanjang tahun ini emas masih mencatat kenaikan sekitar 8–10 persen. Di sisi lain, harga spot perak juga melemah lebih dari 4–5 persen ke rentang 80,63–80,90 dolar AS per ounce (setara Rp1,35 juta) setelah terjun 30–36 persen pada Jumat (30/1/2026), yang menjadi penurunan harian terburuk sejak Maret 1980. Walaupun mengalami koreksi dalam beberapa hari terakhir, perak tetap membukukan penguatan tahunan sekitar 16 persen.

1. Kebijakan Trump memicu penguatan dolar AS

ilustrasi Federal Reserve (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Pemicu utama perubahan arah harga logam mulia ini adalah langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengajukan eks Gubernur Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh sebagai calon pengganti Ketua Jerome Powell yang masa tugasnya berakhir pada bulan Mei mendatang. Warsh dikenal memiliki sikap lebih hawkish, sangat menjunjung tinggi independensi bank sentral, serta cenderung mendukung kebijakan moneter lebih ketat, termasuk rencana penyusutan neraca The Fed.

Keputusan tersebut segera mendorong penguatan nilai dolar AS, yang terlihat dari kenaikan indeks dolar sekitar 0,8 persen sejak Kamis (29/1/2026). Dampaknya, minat investor global terhadap emas dan perak menurun, narasi pelemahan mata uang berkurang, dan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil meningkat dibandingkan surat utang negara AS (Treasurys). Selain itu, pernyataan positif Trump mengenai peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran turut meredakan ketegangan geopolitik, yang kemudian ikut menekan harga kontrak minyak WTI hingga turun sekitar 4 persen pada hari Senin (2/2/2026).

2. Analis menilai koreksi terjadi setelah lonjakan ekstrem

ilustrasi saham naik (pexels.com/Jakub Zerdzicki)

José Torres, ekonom senior di Interactive Brokers menyampaikan, perubahan arah kebijakan ekonomi di AS mulai mengubah sentimen pasar terhadap emas dan perak.

“Perdagangan ‘Buy America’ kembali muncul sebagai akibatnya, dan tawaran independensi yang mendorong emas dan perak ke ketinggian rekor yang sangat tinggi tepat di bawah 5,600 dolar AS (setara Rp94,06 juta) dan 122 dolar AS (setara Rp2,05 juta) per ounce pada Kamis (29/1/2026) pagi dini hari sedang terurai,” katanya, dikutip dari CNBC.

Sementara itu, Christopher Forbes, Kepala Asia dan Timur Tengah di CMC Markets menilai, dinamika harga terbaru sebagai classic air-pocket setelah run yang luar biasa yang dipicu aksi ambil untung, penguatan dolar, serta perkembangan geopolitik terkini dari Washington yang membuat gelembung pada perdagangan aktif tersebut pecah. Ia menegaskan kondisi ini hanya merupakan koreksi wajar setelah reli besar, bukan sinyal bahwa tren bullish jangka panjang telah berakhir.

Forbes juga memperkirakan harga logam mulia masih dapat bertahan pada level tinggi, tetapi dengan tingkat fluktuasi yang cukup besar dalam waktu dekat sambil menanti arah kebijakan lebih jelas dari Warsh.

3. Faktor fundamental pendukung dinilai tetap kuat

ilustrasi analisis keuangan (pexels.com/Lukas)

Kenaikan harga yang terjadi sebelumnya didorong oleh pembelian agresif dari berbagai bank sentral, ketegangan geopolitik yang terus berlangsung, serta derasnya aliran dana spekulatif, khususnya dari tingginya permintaan perak di China. Sejumlah analis berpandangan bahwa faktor-faktor pendukung utama tersebut masih bertahan walaupun pasar sedang memasuki fase koreksi sementara.

Daniel Hynes, analis komoditas senior di ANZ menyampaikan kepada Bloomberg TV, kondisi fundamental tetap solid meskipun terdapat kekhawatiran terkait independensi The Fed. Ia menekankan bahwa ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan masih menjadi penopang utama, sekaligus memproyeksikan volatilitas tinggi akan terus terjadi.

“Pembongkaran tatanan dunia secara umum yang terus kita dengar, dan peran AS di dalamnya, benar-benar menjadi inti dari pembelian aset safe haven ini, dan saya tak melihat hal itu akan berakhir dalam waktu dekat,” katanya, dikutip dari Business Insider.

Pada tahun lalu, emas dan perak berhasil membukukan lonjakan nilai yang sangat besar, masing-masing sekitar 65 persen dan 145 persen.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team