Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Klaim Berhasil Jual Minyak Venezuela 30 Persen Lebih Mahal
ilustrasi tambang minyak (unsplash.com/Maria Lupan)

Intinya sih...

  • AS lakukan penjualan pertama minyak Venezuela dengan harga 500 juta dolar AS

  • Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia

  • Donald Trump ingin perusahaan minyak besar dunia berinvestasi di Venezuela

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat mengklaim berhasil menjual minyak mentah Venezuela 30 persen lebih mahal. AS melakukan penjualan pertama minyak dari Venezuela setelah Amerika Serikat menangkap Presiden Nicolas Maduro beberapa pekan lalu.

“Kami mendapatkan harga jual sekitar 30 persen lebih tinggi ketika menjual barel minyak yang sama dibandingkan dengan harga jual 3 minggu yang lalu,” kata Menteri Energi AS, Chris Wright, dalam sebuah acara yang dihelat Asosiasi Energi AS pada Kamis (15/1/2026), dilansir CNBC.

1. AS lakukan penjualan pertama minyak Venezuela dengan harga 500 juta dolar AS

potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/David Dibert)

Amerika Serikat sendiri berhasil melakukan penjualan minyak Venezuela pada Kamis kemarin. Ini merupakan penjualan pertama setelah Donald Trump menangkap Presiden Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026 lalu. 

Menurut juru bicara Kementerian Energi AS, pihaknya menjual minyak dari negara Amerika Utara itu seharga 500 juta dolar AS atau setara Rp8,4 triliun. Harga ini lebih tinggi dibanding saat Maduro masih berkuasa.

Pemerintah AS dilaporkan bakal kembali melakukan penjualan minyak Venezuela dalam beberapa hari atau minggu mendatang. Langkah ini kemungkinan besar akan melibatkan perusahaan energi raksasa seperti Chevron.

2. Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia

potret bendera Venezuela (pexels.com/aboodi vesakaran)

Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia. Cadangan minyak yang mereka punya dilaporkan mencapai 303 miliar barel. Dengan cadangan minyak sebesar itu, Venezuela saat ini mampu memproduksi minyak sebesar 800.000 barel per hari.

Menurut para ahli, negara yang punya cadangan minyak sebesar Venezuela umumnya sangat kaya. Namun, Venezuela justru sebaliknya. Meski punya cadangan minyak terbesar di dunia, kondisi ekonomi negara itu malah carut marut. 

Hal ini karena kurangnya investasi dalam dan luar negeri yang sudah terjadi selama bertahun-tahun, terutama sejak Nicolas Maduro menjabat sebagai presiden pada 2013. Ia kurang pandai mengelola kekayaan minyak Venezuela sehingga produksi minyak mentah negara tersebut merosot tajam ke level terendah dalam beberapa dekade.

3. Donald Trump ingin perusahaan minyak besar dunia berinvesatsi di Venezuela

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Jackson A. Lanier)

Situasi ini pun lantas dimanfaatkan oleh Presiden AS, Donald Trump. Ia menyerukan kepada perusahaan-perusahaan minyak besar di dunia untuk berinvestasi di Venezuela. 

Ini bertujuan untuk kembali membangkitkan industri minyak Venezuela agar bisa menguntungkan. Apalagi, Trump saat ini juga sudah berhasil menguasai cadangan minyak Caracas.

Pada Jumat pekan lalu, Trump juga sudah bertemu dengan perusahaan minyak besar di Gedung Putih. Beberapa di antaranya, seperti Exxon, Chevron, ConocoPhillips, Halliburton, Valero, dan Maratho. Trump mengatakan bahwa semua perusahaan itu berniat menginvestasikan dana sebesar 100 juta dolar AS atau Rp1,6 triliun di industri minyak Venezuela. 

Namun, CEO Exxon, Darren Woods, justru mengeluarkan pernyataan berbeda dari Trump. Ia mengatakan, kondisi Venezuela saat ini sama sekali tidak cocok untuk berinvestasi. Sebab, negara itu masih mengalami kekacauan politik usai Presiden Nicolas Maduro ditangkap AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team