Pemerintah China, melalui Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) dan pihak bea cukai, telah memerintahkan penghentian total pengiriman pupuk campuran nitrogen-kalium (NPK). Selain itu, pemerintah juga memperketat kuota ekspor urea. Langkah ini diambil untuk meredam lonjakan harga di dalam negeri, yang sempat naik hingga 40 persen sejak awal serangan militer di Iran.
Keputusan strategis ini didorong oleh kebutuhan mendesak untuk mengamankan persediaan sektor pertanian nasional, yang kini sedang memasuki masa permintaan tertinggi pada bulan Maret ini.
Kebijakan ini juga memuat perintah kepada perusahaan besar, seperti Sinofert Holdings dan China BlueChemical, untuk mengutamakan penjualan di dalam negeri. Perusahaan tersebut diminta melepas cadangan pupuk komersial nasional lebih awal dari jadwal biasanya.
Tindakan ini secara langsung menghilangkan jutaan ton potensi pasokan dari pasar internasional, sehingga memaksa pembeli global untuk mencari pilihan lain di tengah terbatasnya ketersediaan saat ini.
Langkah Beijing untuk mengamankan pasokan di dalam negeri ini tidak hanya dipicu oleh kebutuhan pertanian biasa. Keputusan ini juga didorong oleh cita-cita jangka panjang untuk meningkatkan produksi biji-bijian secara mandiri, guna mengurangi ketergantungan impor dari AS. Selain itu, terdapat peralihan penggunaan fosfat untuk industri pembuatan baterai kendaraan listrik yang sedang berkembang pesat di China.
Pupuk jenis amonium sulfat masih menjadi pengecualian dan diizinkan untuk dikirim ke luar negeri. Namun, pengawasan ketat terhadap jenis pupuk utama lainnya telah memicu kepanikan di antara para pedagang komoditas.
Sebelumnya, pedagang berharap ada kelonggaran kuota karena China memiliki kapasitas produksi berbasis batu bara yang lebih stabil. Hal ini berbeda dengan produsen global lain yang sangat bergantung pada harga gas alam, yang kini harganya sedang melonjak tajam akibat hambatan logistik.