Timur Tengah Memanas, Pupuk Indonesia Cari Alternatif Bahan Baku

- Pupuk Indonesia memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman meski konflik di Timur Tengah, dengan melakukan diversifikasi sumber impor bahan baku NPK dari negara yang tidak terdampak.
- Perusahaan mencari alternatif pasokan sulfur dari Kanada, Kazakhstan, dan sumber domestik untuk mengurangi ketergantungan pada negara Timur Tengah serta menjaga kelancaran produksi pupuk.
- Pupuk Indonesia menjalankan program revitalisasi industri melalui pembangunan pabrik baru dan peremajaan tujuh pabrik agar efisiensi energi meningkat dan kapasitas produksi lebih optimal.
Jakarta, IDN Times - PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan pasokan bahan baku pupuk aman meski ada gejolak geopolitik di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat (AS).
Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira mengatakan, perusahaan melakukan diversifikasi sumber impor bahan baku untuk pupuk NPK (nitrogen, fosfor, dan kalium).
“Di tengah dinamika geopolitik yang terjadi, kami memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman sehingga petani dapat terus menanam, tanpa perlu khawatir terhadap ketersediaan pupuk,” kata Yehezkiel, dikutip dari keterangan resmi, Selasa (17/3/2026).
1. Impor bahan baku dilakukan dari negara-negara yang tak terdampak konflik

Saat ini Pupuk Indonesia memperoleh pasokan fosfat (P) dari negara-negara di kawasan Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair.
Sementara itu, pasokan kalium (K) diperoleh dari Kanada dan Laos yang berada di luar wilayah konflik Timur Tengah, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.
2. Pupuk Indonesia cari sumber sulfur di negara lain dan dalam negeri

Meski begitu, ada satu bahan baku yang berpotensi terdampak langsung oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, yakni sulfur (S).
Sulfur merupakan salah satu bahan baku yang digunakan untuk memproduksi asam sulfat, yang menjadi komponen pendukung dalam pembuatan pupuk NPK. Saat ini sebagian pasokan sulfur memang diperoleh dari negara-negara di Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab (UAE), Qatar, dan Kuwait.
Yehezkiel memastikan, risiko gangguan pasokan relatif dapat dimitigasi karena sulfur juga dapat diperoleh dari negara lain seperti Kanada dan Kazakhstan. Selain itu, sebagian kebutuhan terhadap asam sulfat juga dapat dipenuhi dari sumber-sumber domestik.
Dengan diversifikasi sumber bahan baku tersebut, Pupuk Indonesia mampu menjaga proses produksi tetap berjalan optimal sehingga ketersediaan pupuk bagi petani tetap terjaga.
3. Pupuk Indonesia lakukan peremajaan 7 pabrik

Dari sisi operasional, Pupuk Indonesia juga meningkatkan efisiensi energi dan optimalisasi penggunaan bahan baku, melalui program revitalisasi industri yang didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025.
Program revitalisasi itu mencakup rencana pembangunan pabrik baru dan peremajaan 7 pabrik dalam waktu 5 tahun ke depan. Program itu memungkinkan optimalisasi kapasitas produksi, sekaligus mendorong penggunaan bahan baku yang lebih efisien.
Dengan kapasitas produksi yang kuat, diversifikasi sumber bahan baku, manajemen stok, serta program revitalisasi, Pupuk Indonesia optimistis dapat menjaga stabilitas pasokan pupuk nasional.
“Fokus utama kami tetap memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi dengan optimal,” tutur Yehezkiel.

















