Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
HIPMI Sebut Struktur Industri RI Masih Rapuh, Rupiah Lemah Jadi Alarm
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • HIPMI menilai pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS menunjukkan rapuhnya struktur industri nasional yang masih bergantung besar pada impor bahan baku dan komponen.
  • Pelemahan rupiah menekan arus kas perusahaan karena biaya impor, logistik, dan bunga pinjaman meningkat sementara daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya.
  • Bank Indonesia menyebut pelemahan rupiah dipicu gejolak global akibat konflik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS, meski stabilitas domestik tetap dijaga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
akhir Februari 2026

Harga minyak dunia mulai melonjak lebih dari 40 persen sejak akhir Februari 2026, memicu ketidakpastian global dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

13 Mei 2026

Rupiah sempat melemah hingga Rp17.500 per dolar AS sebelum sedikit menguat ke Rp17.400. HIPMI menilai pelemahan ini menunjukkan rapuhnya struktur industri nasional, sementara Bank Indonesia menjelaskan faktor pendorongnya termasuk konflik di Timur Tengah dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga Rp17.500 per dolar AS, memicu kekhawatiran terhadap ketahanan struktur industri nasional yang dinilai masih rapuh oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).
  • Who?
    Pernyataan disampaikan Sekjen HIPMI Anggawira dan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso terkait dampak pelemahan rupiah terhadap sektor industri dan ekonomi.
  • Where?
    Keterangan disampaikan di Jakarta, termasuk dari Gedung Bank Indonesia, dengan situasi nilai tukar dipantau melalui data pasar keuangan internasional.
  • When?
    Pernyataan dan perkembangan nilai tukar terjadi pada Rabu, 13 Mei 2026, ketika rupiah bergerak di kisaran Rp17.400–Rp17.500 per dolar AS.
  • Why?
    Pelemahan rupiah dipicu gejolak global akibat konflik di Timur Tengah yang menaikkan harga minyak dunia serta imbal hasil obligasi Amerika Serikat, menekan mata uang negara berkembang.
  • How?
    Kondisi ini menyebabkan biaya impor meningkat dan arus kas perusahaan tertekan; HIPMI menyerukan penguatan industri domestik untuk mengurangi ketergantungan impor, sementara BI menjaga stabilitas melalui kebijakan moneter.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Uangnya Indonesia namanya rupiah jadi lemah, satu dolar Amerika sekarang mahal banget. Orang-orang dari HIPMI bilang ini bikin pabrik susah karena beli barang dari luar negeri jadi lebih mahal. Banyak perusahaan keluar uang lebih banyak. Katanya ini gara-gara harga minyak dunia naik dan ada masalah di Timur Tengah. Sekarang rupiah sedikit membaik tapi masih lemah. Bank Indonesia bilang mereka akan jaga supaya tetap aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun pelemahan rupiah menandakan tantangan bagi sektor industri, pernyataan HIPMI dan Bank Indonesia menunjukkan kesadaran kolektif untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. Seruan percepatan penguatan industri lokal serta keyakinan BI terhadap solidnya fundamental domestik mencerminkan kesiapan menghadapi gejolak global dengan langkah kebijakan yang terarah dan penuh kehati-hatian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menyebut pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar AS perlu mendapat perhatian serius, terutama bagi sektor manufaktur.

Kondisi ini juga mencerminkan betapa rapuhnya struktur industri dalam negeri dalam menghadapi fluktuasi mata uang. Akibat pelemahan ini, banyak perusahaan menghadapi kenaikan biaya produksi, terutama bagi yang masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, dan komponen industri.

"Kita harus jujur melihat bahwa struktur industri Indonesia saat ini memang belum sepenuhnya kuat. Banyak sektor masih bergantung pada impor bahan baku antara 35–70 persen, terutama industri petrokimia, farmasi, elektronik, otomotif, tekstil, hingga beberapa sektor makanan dan minuman,” kata Sekjen HIPMI, Anggawira, saat dihubungi IDN Times, Rabu (13/5/2026).

1. Arus kas perusahaan akan tertekan jika rupiah terus melemah

ilustrasi seseorang yang bekerja di industri manufaktur (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Menurut dia, ketika rupiah melemah cukup dalam dan berlangsung relatif lama, dampaknya bukan hanya pada kenaikan biaya produksi, tetapi juga tekanan serius terhadap arus kas perusahaan.

“Biaya impor naik, biaya logistik global masih tinggi, bunga pinjaman meningkat, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih kuat. Ini semua membuat cash flow perusahaan menjadi lebih berat,” kata dia.

Angga menekankan pentingnya percepatan penguatan industri domestik agar ketergantungan terhadap impor bisa dikurangi.

“Penguatan industri lokal tidak bisa ditunda lagi, karena fluktuasi nilai tukar mata uang adalah risiko yang selalu ada,” ujar dia.

2. Rupiah hanya sedikit menguat sore tadi

ilustrasi dolar 20 (pexels.com/Pixabay)

Pergerakan rupiah terus menunjukkan fluktuasi dalam beberapa hari terakhir dan saat ini berada di level Rp17.400 per dolar AS. Nilai ini sedikit menguat dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp17.500 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, mayoritas mata uang utama Asia juga mengalami penguatan. Rinciannya sebagai berikut:

  • Baht Thailand menguat 0,05 persen

  • Ringgit Malaysia menguat 0,01 persen

  • Rupee India menguat 0,40 persen

  • Peso Filipina menguat 0,07 persen

3. Faktor pendorong rupiah melemah

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso. (IDN Times/Triyan).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, mengatakan, pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS dipengaruhi oleh gejolak global akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi ini mendorong harga minyak naik dan memicu kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).

“Pergerakan nilai tukar di berbagai negara sangat dipengaruhi dinamika global, terutama konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia,” ujar Denny di Gedung BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Menurut Denny, harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 40 persen sejak akhir Februari 2026, meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven. Selain itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang mendekati 4,5 persen turut menekan mata uang negara berkembang. Pada akhir Februari, yield obligasi AS tersebut masih berada di kisaran 4 persen.

“Penguatan indeks dolar AS juga memperkuat tekanan terhadap mata uang emerging market,” kata dia.

Denny mengatakan, tekanan terhadap mata uang tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang lain seperti Peso Filipina, Baht Thailand, Rupee India, dan Won Korea Selatan, serta beberapa mata uang Amerika Latin, juga mengalami pelemahan.

Meski begitu, kata dia, terdapat faktor domestik yang turut meningkatkan permintaan dolar AS, antara lain repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan valuta asing untuk penyelenggaraan ibadah haji.

Bank Indonesia optimistis stabilitas rupiah tetap terjaga seiring penguatan bauran kebijakan moneter dan fundamental ekonomi domestik yang masih solid.

Editorial Team