Bank Indonesia: Tidak Ada Alasan Rupiah Tak Menguat

- Bank Indonesia menegaskan optimisme terhadap penguatan rupiah berkat fundamental ekonomi domestik yang kuat, seperti pertumbuhan ekonomi positif, inflasi terjaga, dan pengelolaan utang luar negeri yang hati-hati.
- BI aktif memantau pergerakan transaksi di pasar domestik hingga internasional, termasuk pasar Eropa dan Amerika Serikat, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari tekanan global.
- Sinergi BI dengan pemerintah dan otoritas keuangan terus diperkuat melalui koordinasi KSSK guna memastikan stabilitas sistem keuangan serta mendukung penguatan nilai rupiah.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) memastikan terus memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung. BI meyakini rupiah akan tetap stabil dan cenderung menguat seiring kuatnya fundamental ekonomi domestik.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan bank sentral terus mengoptimalkan tujuh langkah strategis BI untuk menjaga kestabilan rupiah.
“BI sangat menyadari kondisi ini sehingga BI terus menguatkan tujuh langkah BI dalam membuat rupiah itu stabil dan cenderung menguat,” ujar Denny saat ditemui di Gedung Bi, Rabu (13/5/2026).
1. Tidak ada alasan rupiah untuk tidak menguat

Ia menegaskan, BI tetap optimistis terhadap pergerakan rupiah karena ditopang fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain.
Menurut Denny, keyakinan tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026, inflasi yang tetap terjaga, hingga pengelolaan utang luar negeri yang dinilai lebih prudent.
“Tidak ada alasan untuk rupiah tidak stabil,” katanya.
2. BI aktif pantau pergerakan transaksi di domestik dan pasar Internasional

Denny menambahkan, BI juga terus aktif berada di pasar keuangan domestik maupun global untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Setelah pasar domestik tutup, BI tetap memantau pergerakan transaksi di pasar Eropa hingga Amerika Serikat, terutama terkait transaksi non-deliverable forward (NDF) yang memengaruhi rupiah di pasar offshore.
“Begitu pasar Jakarta tutup, kami stand-by di pasar Eropa, kemudian di pasar Amerika untuk menjaga bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah tetap stabil,” ujarnya.
3. BI terus perkuat sinergi dengan KSSK

Selain intervensi di pasar, BI juga terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait melalui koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Menanggapi pernyataan Kementerian Keuangan yang akan masuk ke pasar guna menjaga stabilitas rupiah, Denny mengatakan koordinasi antara BI dan pemerintah terus dilakukan melalui wadah KSSK.
“Dengan wadah KSSK tentunya sinergi untuk terus memperkuat kondisi ekonomi Indonesia termasuk membuat rupiah stabil dan menguat itu sudah dibicarakan,” katanya.
















