Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) usai Moody’s Ratings mengubah prospek utang Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Sepekan kemarin (2-6 Februari 2026), IHSG melemah hingga 394,35 poin atau 4,73 persen ke level 7.935,26. Kinerja IHSG merupakan yang terburuk secara regional, dibandingkan dengan seluruh indeks uatama ASEAN.
Menurut Purbaya, perubahan prospek dari Moody’s menimbulkan ketakutan di kalangan pelaku pasar modal.
“Ya orang takut. Prospek ekonomi kita mungkin enggak bagus gara-gara sinyal dari Moody’s,” kata Purbaya di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Purbaya menilai, ada kekeliruan dari Moody’s. Dia mengatakan, kinerja ekonomi Indonesia bagus, tercatat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 sebesar 5,39 persen secara year on year (yoy), dan sepanjang 2025 sebesar 5,11 persen (yoy).
“Padahal Moody’s kesini kan sebelum angka keluar. Sekarang lebih gampang menunjuknya. Pertumbuhan ekonominya 5,39, paling tinggi dalam 5 tahun terakhir. Tahunannya 5,11 persen, lebih tinggi dari China. Lumayan, tuh. Kita enggak nyungsep, artinya ke arah sana. Risiko selalu ada, tapi probability-nya kecil,” ujar Purbaya.
Purbaya meyakini, pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2026 terus membaik, bahkan dia pede bisa mencapai 6 persen. Dia memperkirakan, prospek Moody’s akan berubah lagi seiringan dengan membaiknya perekonomian Indonesia.
Oleh sebab itu, dia meminta para pelaku pasar modal untuk tidak mengkhawatiri prospek Moody’s.
“Jadi kemungkinan besar ada yang salah hitung dari situ. Nanti yang ke depan, kalau kita jaga terus seperti ini, akan berubah juga dengan sendiri. Jadi orang di pasar modal enggak usah terlalu khawatir,” kata Purbaya.
Dia memastikan, pemerintah saat ini punya rumus yang tepat dalam memperbaiki ekonomi Indonesia.
“Pemerintahan kita punya senjata yang pas. Dan Anda harus yakin bahwa senjatanya memang pas banget untuk mendorong ke arah 6 persen,” ucap Purbaya.
