Ekonom Ungkap Dampak Moody's Pangkas Outlook Peringkat RI

- Pasar langsung respons penurunan peringkat oleh Moody's
- Terjadi tekanan pada rupiah, IHSG dan harga obligasi valas
- Arus modal dan pasar saham berpotensi volatil
Jakarta, IDN Times - Penurunan outlook peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody’s Ratings dinilai membawa dampak nyata ke pasar keuangan hingga ekonomi riil. Meski peringkat Indonesia tetap dipertahankan di level Baa2 atau investment grade, pasar membaca langkah Moody’s sebagai sinyal meningkatnya risiko kebijakan ke depan.
Adapun alasan Moody’s mengubah outlook peringkat Indonesia dipicu berkurangnya prediktabilitas dalam perumusan kebijakan, yang berpotensi melemahkan efektivitas kebijakan dan menunjukkan melemahnya tata kelola pemerintahan. Jika tren tersebut berlanjut, hal tersebut dinilai dapat menggerus kredibilitas kebijakan yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan.
1. Pasar langsung respons penurunan peringkat oleh Moody's

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, outlook negatif menunjukkan Moody’s melihat potensi penurunan peringkat meningkat apabila faktor pemicu, terutama terkait prediktabilitas kebijakan dan tata kelola, tidak segera membaik.
“Pasar langsung menerjemahkan sinyal ini sebagai kenaikan premi risiko,” ujar Syafruddin, dikutip Sabtu (7/2/2026).
2. Terjadi tekanan pada rupiah, IHSG dan harga obligasi valas

Syafruddin mencatat, respons pasar terlihat dari tekanan pada nilai tukar rupiah, pelemahan harga obligasi valas, serta IHSG yang masih tertekan seiring sentimen negatif global dan kekhawatiran terhadap transparansi pasar.
Menurutnya, dampak outlook negatif pertama-tama terasa melalui biaya pendanaan. Investor cenderung meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang aset berisiko Indonesia. Akibatnya, yield obligasi naik dan biaya penerbitan utang baru meningkat, baik bagi pemerintah maupun korporasi.
"Jika tekanan ini berlanjut, ruang fiskal pemerintah berpotensi menyempit karena porsi pembayaran bunga utang meningkat. Kredibilitas kebijakan menjadi faktor kunci apakah tekanan ini bersifat sementara atau berkelanjutan,” ujarnya.
3. Arus modal dan pasar saham berpotensi volotaile

Dampak kedua mengalir melalui nilai tukar. Outlook negatif memperkuat persepsi meningkatnya risiko kebijakan, sehingga minat terhadap aset rupiah melemah. Pelemahan rupiah berpotensi menambah tekanan inflasi, terutama dari barang impor dan input produksi berbasis impor.
Syafruddin menekankan, kredibilitas kebijakan moneter berperan penting dalam menjaga ekspektasi inflasi. Ketika konsistensi dan independensi kebijakan dipertanyakan, volatilitas pasar cenderung meningkat dan transmisi tekanan ke inflasi menjadi lebih cepat.
"Dampak ketiga menyentuh arus modal dan pasar saham. Sikap risk-off investor asing menguat, terutama di tengah sorotan terhadap transparansi dan likuiditas pasar. Arus jual asing dan pelemahan IHSG mencerminkan pasar merespons lewat harga aset, bukan sekadar wacana," ujarnya.














