Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Inflasi Tahunan Maret 2026 Capai 3,48 Persen, Efek Diskon Listrik 2025
Dua petugas PLN mengecek tegangan listrik pada mesin pembangkit di Karimunjawa Jepara. (IDN Times/Dok Humas PLN Indonesia Power Semarang)
  • BPS mencatat inflasi tahunan Maret 2026 sebesar 3,48 persen, dipengaruhi efek basis rendah akibat kebijakan diskon tarif listrik pada awal 2025.
  • Ateng Hartono menjelaskan kenaikan inflasi tahunan tidak sepenuhnya mencerminkan lonjakan harga saat ini, melainkan dampak perbandingan harga yang rendah tahun lalu.
  • Inflasi bulanan Maret 2026 tercatat 0,41 persen, dengan penyumbang terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama ikan segar serta beras.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Maret 2026 sebesar 3,48 persen. Angka ini, antara lain dipengaruhi oleh low base effect yang bersumber dari kebijakan diskon tarif listrik pada awal 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menjelaskan, efek basis rendah tersebut muncul karena Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari–Februari 2025 sempat turun akibat diskon listrik dari pemerintah.

“Basis pembandingnya rendah karena pada awal 2025 ada diskon tarif listrik yang menekan IHK,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026).

1. Alasan inflasi tahunan terlihat lebih tinggi

Laju inflasi secara tahunan. (Dok/Istimewa).

Ia merinci, pada Maret 2025 tarif listrik untuk pelanggan prabayar sudah kembali normal. Namun, pelanggan pascabayar masih membayar tagihan yang mencerminkan periode diskon sebelumnya, sehingga penurunan IHK masih berlanjut hingga Maret 2025.

Kondisi ini membuat level harga pada Maret 2025 relatif lebih rendah dari kondisi normal. Akibatnya, ketika dibandingkan dengan Maret 2026, inflasi tahunan terlihat lebih tinggi.

"Ketika penghitungan inflasi di tahun 2026 secara year on year, karena tadi basis pembandingnya rendah, maka menghasilkan tingkat inflasi yang lebih tinggi atau low base effect," ujarnya.

2. Kenaikan inflasi tahunan pada Maret 2026 tidak mencerminkan lonjakan harga saat ini

ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)

Meski demikian, Ateng menegaskan, dampak low base effect pada Maret 2026 mulai berkurang dibandingkan Januari dan Februari 2026. Hal ini seiring berakhirnya program diskon listrik, terutama bagi pelanggan prabayar, sehingga basis perbandingan mulai kembali normal.

Dengan demikian, kenaikan inflasi tahunan pada Maret 2026 tidak sepenuhnya mencerminkan lonjakan harga saat ini, melainkan juga dipengaruhi oleh rendahnya basis harga pada periode yang sama tahun lalu akibat kebijakan diskon listrik.

3. Inflasi secara bulanan capai 0,41 persen

ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)

Sementara itu, BPS mencatat inflasi pada Maret 2026 sebesar 0,41 persen secara bulanan (month to month/mtm). Ateng mengatakan, kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah pada makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi sebesar 1,07 persen. Sedangkan untuk makanan, minuman, tembakau ini juga memberikan andil sebesar 0,32 persen.

"Komoditi yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yaitu ikan segar, andilnya 0,06 persen, beras 0,03 persen, serta telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, dan daging sapi masing-masing 0,02 persen;" ujarnya.

Editorial Team