Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Intip Prospek Emiten Tambang usai Fitch Naikkan Asumsi Harga Komoditas
Kegiatan di area pertambangan anak usaha grup MIND ID. (dok. MIND ID)
  • Fitch Ratings menaikkan asumsi harga komoditas utama seperti tembaga, aluminium, emas, batu bara, dan nikel untuk 2026 karena meningkatnya permintaan global serta terbatasnya pasokan.
  • Kenaikan asumsi harga komoditas dinilai analis pasar sebagai sentimen positif yang berpotensi mendorong peningkatan harga saham emiten pertambangan di Bursa Efek Indonesia.
  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memimpin kenaikan harga saham emiten emas sejak awal 2026 seiring prospek kuat sektor logam mulia dan hilirisasi industri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menaikkan asumsi harga logam dan komoditas tambang untuk 2026. Proyeksi itu dinilai berpotensi menjadi sentimen positif bagi kinerja saham emiten pertambangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Melansir laporan resmi Fitch Ratings, untuk harga tembaga diproyeksikan naik dari sebelumnya 9.500 dolar Amerika Serikat (AS) per ton menjadi 11.500 dolar AS/ton. Kenaikan asumsi harga tembaga didorong oleh meningkatnya permintaan dari elektrifikasi global.

1. Harga batu bara hingga nikel diprediksi naik

Ilustrasi bongkar muat batu bara di PT Bukit Asam Tbk (PTBA). (dok. MIND ID)

Sementara itu, asumsi harga aluminium juga dinaikkan untuk seluruh periode proyeksi karena permintaan yang diperkirakan tetap kuat dalam beberapa tahun ke depan. Untuk 2026, proyeksi harganya naik dari 2.550 dolar AS per ton ke 2.900 dolar AS per ton.

"Kenaikan asumsi harga aluminium untuk seluruh periode mencerminkan ekspektasi pertumbuhan permintaan yang tetap sehat serta terbatasnya penambahan pasokan dalam jangka menengah, selain dari rencana penambahan kapasitas di Indonesia dan Asia Tenggara," sebagaimana dikutip dari laman resmi Fitch Rating, Selasa (31/3/2026).

Untuk emas, Fitch menaikkan asumsi harga sepanjang periode proyeksi seiring lonjakan harga pasar yang didorong pembelian bank sentral serta meningkatnya alokasi investasi dari investor institusi dan ritel seiring dengan tensi geopolitik global. Kenaikan harga emas diprediksi terjadi dari level 3.400 dolar AS per ton ke 4.500 dolar AS per ton.

Untuk batu bara termal, Fitch menaikkan asumsi harga dari 95 dolar AS ke 110 dolar AS per ton, karena kondisi pasar yang lebih ketat terutama pada kuartal I-2026. Hal itu dipicu oleh penurunan ekspor batu bara Indonesia akibat ketidakpastian kebijakan serta melemahnya produksi domestik China.

Sementara itu, asumsi harga nikel jangka pendek juga dinaikkan ke 16 ribu dolar AS, seiring kebijakan pemerintah Indonesia yang menetapkan kuota produksi lebih rendah. Kebijakan tersebut berpotensi menekan pasokan global sehingga menopang harga nikel di pasar internasional.

2. Harga saham emiten tambang bisa meningkat

Area produksi PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). (dok. Inalum)

Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada mengatakan, kenaikan asumsi harga komoditas tersebut mencerminkan penilaian Fitch terhadap kondisi global saat ini. Menurutnya, naiknya harga komoditas biasanya menjadi sentimen positif bagi emiten yang berkaitan dengan sektor tersebut.

"Dengan adanya potensi kenaikan tersebut biasanya pelaku pasar akan berasumsi bahwa kenaikan tersebut akan berdampak khususnya positif pada emiten-emiten yang berkaitan dengan komoditas tersebut," ucap Reza.

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama menilai, langkah Fitch menaikkan asumsi harga logam dan komoditas pada 2026 merupakan hal yang wajar. Menurutnya, proyeksi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi peningkatan harga saham emiten terkait.

3. Antam pimpin kenaikan harga saham di antara emiten emas

Kegiatan di area pertambangan anak usaha MIND ID. (dok. MIND ID)

Nafan mencontohkan, prospek PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) beriringan dengan kuatnya dinamika harga emas global di tengah ketidakpastian geopolitik. Dengan harga emas yang diperkirakan tetap tinggi, margin laba dari divisi pemurnian logam mulia ANTM diprediksi akan tetap kuat pada awal 2026

Selain itu, Antam dan seluruh Grup MIND ID juga terus melanjutkan hilitisasi, misalnya melalui kerja sama dengan raksasa dunia seperti CATL dan LG Energy Solution melalui Indonesia Battery Corporation (IBC) yang mulai memasuki fase konstruksi lanjut dan operasional beberapa lini smelter HPAL (High-Pressure Acid Leaching).

Sebagai informasi, ANTM dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) saat ini memimpin kenaikan harga saham di antara emiten emas sejak awal 2026.

Bila dibandingkan, harga saham ANTM telah naik 9,03 persen secara year to date (ytd), dan MDKA naik 38,63 persen ytd per penutupan perdagangan Jumat, (27/3/2026).

Dari sisi teknikal, Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mencermati sejumlah saham komoditas yang menarik untuk diperhatikan, di antaranya PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dengan target harga pada kisaran 9.000-9.400, dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) di rentang 1.755-1.905.

"Lebih lanjut, rekomendasi harga PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) di kisaran 2.520-2.600, serta emiten batu bara pelat merah PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) pada level 2.900-3.080," kata Herditya.

Editorial Team