Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah berada dalam tekanan pada Mei 2026 hingga menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada krisis ekonomi 1998, rupiah juga pernah menyentuh Rp16.700 per dolar AS, tepatnya awal pemerintahan Presiden BJ Habibie.
Mengutip buku “Perjalanan Satu Dasawarsa Bakti OJK Bagi Negeri, Kiprah dan Perjuangan Pemimpin OJK” saat itu, Habibie menempuh sejumlah langkah untuk memulihkan kepercayaan pasar dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Pemerintahan Habibie membangun komunikasi dengan lembaga internasional dan negara-negara kreditor untuk mendapatkan dukungan pendanaan di tengah gejolak ekonomi dan politik.
Dalam pertemuan Consultative Group for Indonesia (CGI) pada 30 Juli 1998, Indonesia memperoleh komitmen pinjaman sebesar 7,9 miliar dolar AS. Selain itu, tersedia tambahan pinjaman 6,2 miliar dolar AS untuk membantu menutup defisit anggaran negara. Seluruh pinjaman tersebut dijadwalkan cair sebelum 31 Maret 1999.
Dana Moneter Internasional atau IMF juga memfasilitasi pertemuan Paris Club pada September 1998 di Paris. Pertemuan itu menghasilkan penjadwalan ulang utang pemerintah Indonesia senilai 4,2 miliar dolar AS.
Seiring mulai mengalirnya dukungan internasional, pemerintah menjalankan sejumlah program pemulihan ekonomi. Apa saja?
