Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jelang Akhir Pekan, Rupiah Lesu ke Level Rp15.020 per Dolar AS
Ilustrasi Dollar dan Rupiah (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Jakarta, IDN Times - Jelang akhir pekan, nilai tukar atau kurs rupiah dibuka melemah pada level Rp15.020 per dolar AS pada awal perdagangan Jumat (21/72023). 

Mengutip Bloomberg, hingga pukul 09.05 WIB, kurs rupiah terpantau melemah hingga 34 poin atau 0,23 persen dibandingkan penutupan perdagangan pada Kamis (20/7/2023). Saat itu rupiah berada pada level Rp14.986 per dolar AS. 

1. Penguatan rupiah bakal tertahan

Analis Sinarmas Futures, Ariston Tjendra, mengatakan penguatan rupiah terhadap dolar AS sepanjang hari ini akan tertahan. Karena data klaim tunjangan pengangguran mingguan AS yang dirlis semalam waktu setempat, justru menunjukkan hasil yang lebih bagus dari ekspektasi pasar. 

"Sehingga potensi pelemahan ke arah Rp15.000 per dolar AS dengan potensi support di kisaran Rp14.950 per dolar AS sepanjang hari ini," jelasnya kepada IDN Times, Jumat (21/7/2023). 

2. Pasar proyeksi The Fed belum akan turunkan suku bunga acuannya

Berbagai data terkini dari AS, kata Ariston, mengisyaratkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih kuat dan bisa menaikkan inflasi. Kondisi ini memicu ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS mungkin tidak akan menurunkan kebijakan suku bunga tingginya dalam waktu dekat.

"Tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS terlihat menaik. Yield tenor 10 tahun naik dari kisaran 3,75 persen ke kisaran 3.87 persen," jelasnya. 

3. Imbas rilis data terbaru AS, The Fed akan naikkan suku bunga hingga 5,5 persen

Chairman Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell pada Rabu (21/9/2022) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) untuk kelima kalinya tahun ini. (dok. YouTube Washington Post)

Dengan demikian, pelaku pasar memprediksi Bank Sentral AS akan menaikan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen hingga 5,50 persen. 

"Pasar memang masih sensitif dengan perkembangan data ekonomi AS untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter Bank Sentral AS selanjutnya," jelasnya. 

Editorial Team