Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jepang Sukses Uji Penambangan Tanah Jarang di Kedalaman 6 Ribu Meter
ilustrasi pertambangan di laut (pexels.com/Antonio Garcia Prats)

Intinya sih...

  • Kapal riset Chikyu berhasil mengangkat material sedimen yang mengandung unsur tanah jarang dari kedalaman 6 ribu meter di dasar Samudra Pasifik, menjadi langkah perdana di tingkat global.

  • Jepang berupaya mengurangi ketergantungan impor unsur tanah jarang dengan memanfaatkan cadangan terbesar ketiga di dunia yang terdapat di sekitar Pulau Minamitori.

  • Proyek penambangan laut dalam ini diperkirakan butuh waktu bertahun-tahun sebelum dapat diterapkan sebagai industri yang menguntungkan secara ekonomi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Jepang mencatat momen penting setelah berhasil mengangkat material sedimen yang mengandung unsur tanah jarang dari kedalaman sekitar 6 ribu meter atau setara 19.700 kaki di dasar Samudra Pasifik pada Senin (2/2/2026).

Kegiatan uji coba penambangan di laut dalam itu dijalankan melalui kapal riset Chikyu dengan dukungan penuh negara serta dikoordinasikan oleh Badan Jepang untuk Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelautan-Bumi (JAMSTEC). Otoritas setempat menyebut keberhasilan tersebut sebagai langkah perdana di tingkat global yang secara khusus menyasar pengambilan unsur tanah jarang pada kedalaman ekstrem.

Juru bicara pemerintah Jepang, Kei Sato menyampaikan, contoh sedimen yang berhasil diangkat kini tengah dianalisis secara menyeluruh guna memastikan kadar unsur tanah jarang di dalamnya.

"Rincian akan dianalisis, termasuk berapa banyak tanah jarang yang terkandung. (Ini adalah) pencapaian yang berarti baik dalam hal keamanan ekonomi maupun pembangunan maritim yang komprehensif," katanya, dikutip dari Times of India.

1. Pulau Minamitori menjadi lokasi utama operasi

Enam oksida unsur tanah jarang, yaitu praseodimium, serium, lantanum, neodimium, samarium, dan gadolinium. (Peggy Greb, US department of agriculture, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Kapal riset Chikyu berangkat dari Pelabuhan Shizuoka sejak bulan lalu untuk memulai misi pengambilan sampel di area perairan dekat Pulau Minamitori yang juga dikenal sebagai Minami Torishima. Pulau karang tersebut berada sekitar 1.243 mil di sebelah timur Tokyo dan termasuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang sekaligus menjadi wilayah paling timur negara itu.

Dilansir dari Al Jazeera, Menteri Sains dan Teknologi Jepang, Yohei Matsumoto, melalui unggahan di media sosial mengumumkan proses pengumpulan lumpur yang mengandung unsur tanah jarang telah terlaksana.

Berdasarkan perkiraan ilmiah, dasar laut di sekitar Pulau Minamitori menyimpan lebih dari 16 juta ton cadangan unsur tanah jarang. Jumlah tersebut menempatkannya sebagai simpanan terbesar ketiga di dunia yang telah teridentifikasi hingga saat ini. Kandungan di dalamnya meliputi logam dysprosium yang diprediksi mampu memenuhi kebutuhan dunia selama lebih dari tujuh ratus tahun serta yttrium yang hampir cukup untuk delapan ratus tahun.

2. Jepang berupaya mengurangi ketergantungan impor

ilustrasi kapal (pexels.com/Thomas Parker)

Dilansir dari Interesting Engineering, unsur tanah jarang mempunyai fungsi strategis dalam produksi berbagai komponen penting seperti magnet berkekuatan tinggi, perangkat elektronik modern, teknologi laser, kendaraan listrik, turbin pembangkit tenaga angin, cakram keras, telepon pintar, hingga peralatan militer canggih termasuk sistem rudal.

Hingga kini Jepang masih menggantungkan sekitar 70 persen kebutuhan unsur tanah jarangnya pada pasokan dari China. Semua jenis logam sebanyak 17 jenis yang tergolong dalam kategori tanah jarang tersebut diketahui memerlukan proses yang rumit untuk diekstraksi dan dimurnikan.

Shoichi Ishii selaku Direktur Program National Platform for Innovative Ocean Developments Jepang memberikan pandangan mengenai arti penting proyek ini.

“Ini tentang keamanan ekonomi. Negara perlu mengamankan rantai pasok unsur tanah jarang. Betapapun mahalnya, industri membutuhkannya,” katanya.

3. Proyek laut dalam diperkirakan butuh waktu panjang

Bendera Jepang (Toshihiro Oimatsu from Tokyo, Japan, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Upaya Jepang mengembangkan penambangan unsur tanah jarang di dasar laut telah berlangsung sejak 2014 dan semakin memperoleh perhatian seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global. Negara tersebut bahkan telah melakukan riset mineral kelautan secara berkelanjutan sejak akhir dekade 1970-an. Pada tahun lalu, Jepang juga menandatangani kerja sama dengan Amerika Serikat (AS) untuk menyelaraskan langkah dalam menjaga ketersediaan pasokan unsur tanah jarang.

Dalam tahap percobaan terbaru ini, tim peneliti memasang perangkat khusus yang didesain untuk mengangkat lumpur bermuatan logam dari kedalaman antara 16.400 hingga 19.700 kaki. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, proses ekstraksi percobaan dengan kapasitas hingga 385 ton sedimen per hari diperkirakan dapat dimulai paling cepat pada Februari 2027 guna mengidentifikasi jenis serta kadar unsur tanah jarang yang terkandung. Kapal Chikyu sendiri dijadwalkan kembali merapat ke pelabuhan pada penghujung bulan ini.

Seluruh rangkaian kegiatan dilakukan di wilayah perairan nasional Jepang sehingga tidak tunduk pada regulasi penambangan laut internasional. Hingga sekarang belum ada satu pun negara yang berhasil menjalankan operasi penambangan laut dalam berskala komersial secara penuh. Tantangan utama berasal dari tekanan air yang sangat tinggi, kondisi gelap gulita di dasar laut, kompleksitas teknologi yang dibutuhkan, serta biaya operasional yang amat besar.

Para pakar menyatakan, keberhasilan teknis yang telah dicapai masih memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum benar-benar dapat diterapkan sebagai industri yang menguntungkan secara ekonomi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team