Jakarta, IDN Times - Gejolak geopolitik global memukul industri air minum dalam kemasan Indonesia. Harga bahan baku plastik melonjak hingga 100 persen, dan jika tidak ada intervensi, masyarakat bisa merasakan dampaknya langsung di harga air minum kemasan.
Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (AMDATARA) menyuarakan keprihatinan serius atas tekanan yang semakin berat terhadap industri air minum dalam kemasan akibat lonjakan harga bahan baku kemasan plastik. Situasi ini dipicu oleh gejolak global yang berdampak langsung pada harga minyak mentah dan gas alam dunia.
Ketua Umum AMDATARA Karyanto Wibowo menyebut konflik AS-Israel versus Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026 sebagai pemicu utama. Harga minyak mentah dunia melonjak dari sekitar 67 dolar AS per barel menjadi 98 dolar AS per barel hanya dalam hitungan pekan, sementara harga gas alam acuan di Asia dan Eropa melesat lebih dari 60 persen dalam periode yang sama.
Dampaknya langsung terasa di industri kemasan. “Karena lebih dari 99 persen plastik global diproduksi dari bahan bakar fosil, kenaikan harga energi ini langsung berdampak pada biaya produksi dan bahan baku plastik,” ujar Karyanto dalam pernyataan resminya di website AMDATARA, Senin (6/4/2026).
AMDATARA memperkirakan lonjakan harga bahan baku hingga 100 persen ini berpotensi mendorong kenaikan harga kemasan jadi sekitar 25 hingga 50 persen, tergantung jenis material, volume produksi, dan skala usaha masing-masing perusahaan. Ujungnya, harga jual air minum kemasan di pasaran pun terancam ikut naik, terutama dari produsen kecil dan menengah yang memiliki stok terbatas dan likuiditas lebih rendah.
