Mendag Sebut Harga Plastik Naik Akibat Perang Iran vs Amerika

- Mendag Budi Santoso menjelaskan kenaikan harga plastik di Indonesia dipicu perang Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang mengganggu pasokan nafta dari Timur Tengah.
- Pemerintah tengah mencari alternatif negara pemasok nafta seperti Afrika, India, dan Amerika agar ketergantungan impor dari Timur Tengah bisa dikurangi.
- Budi menegaskan komunikasi dengan pelaku usaha terus dilakukan untuk menemukan pemasok baru demi menjaga kelancaran produksi plastik dalam negeri.
Jakarta, IDN Times - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan naiknya harga plastik di Indonesia akibat dampak perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Salah satu bahan baku pembuatan plastik berasal dari Timur Tengah.
"Beberapa hari ini kan memang banyak atau keluhan masyarakat harga plastik naik. Jadi ini bagian dari dampak dari perang. Kita itu, bahan baku plastik itu salah satunya adalah nafta. Nafta itu kita impor dari Timur Tengah," ujar Budi di kantor KSP, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
1. Pemerintah cari alternatif

Budi menyampaikan, pemerintah sedang mencari alternatif negara produsen nafta. Sehigga, Indonesia tidak hanya impor dari Timur Tengah.
"Apa yang demikian kita lakukan? Kita sekarang mencari alternatif pengganti atau alternatif dari negara lain dan kita sudah melakukan misalnya Afrika, India dan Amerika," kata dia.
2. Prosesnya perlu waktu

Meski demikian, kata Budi, impor nafta dari negara lain masih perlu waktu. Sebab, perang di Timur Tengah terjadi secara tiba-tiba.
"Memang ini butuh waktu, karena kan tiba-tiba dari timur tengah trus pindah ke negara lain. Jadi kita harapkan proses ini bisa berjalan dengan baik, sehingga harga bisa kembali normal," ucap dia.
3. Pemerintah terus berkomunikasi dengan pelaku usaha

Lebih lanjut, Budi mengaku terus berkomunikasi dengan pelaku usaha dengan asosiasi untuk mencari alternatif lain agar bisa impor bahan baku plastik.
"Perwakilan kita di luar negeri mencari supplier-supplier baru untuk bisa ekspor masuk ke Indonesia. Karena ini kan tidak terjadi di Indonesia saja. Jadi beberapa perusahaan di Singapura, di China, di Korea, dan juga di Taiwan, Thailand juga. Tapi kita untuk bahan baku trus kita lakukan sehingga produksi di dalam negeri normal lagi," ujar dia.



















