Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi susu (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi susu (pexels.com/Pixabay)

Intinya sih...

  • Konsumsi susu segar di Indonesia rendah, hanya 15 liter per kapita per tahun.
  • Impor susu mencapai 80%, produksi lokal hanya mampu memenuhi 20% kebutuhan nasional.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times -  Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi mengatakan, konsumsi susu segar di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan Vietnam. Itu lantaran tingkat konsumsi susu hanya mencapai 15 liter per kapita atau per orang dalam setahun. 

"Di mana sebanyak 4,4 juta ton susu impor ke Indonesia dibagi 280 juta penduduk, kita itu hanya sekitar 15 liter per kapita per tahun per orang. Dibandingkan sama Vietnam saja sudah 75 liter per kapita per tahun, per orang per tahunnya," kata Budi Arie dalam konferensi pers, Jakarta, Senin (11/11/2024). 

1. Susu jadi komponen penting cetak SDM unggul

ilustrasi susu sapi (freepik.com/Racool_studio)

Menurut Budi Arie, berdasarkan data pemerintah Indonesia, konsumsi susu nasional pada 2022 dan 2023 masing-masing sebesar 4,4 juta ton dan 4,6 juta ton. Kebutuhan konsumsi susu nasional masih dipenuhi melalui impor sekitar 80 persen, sedangkan produksi susu sapi nasional hanya mampu memenuhi 20 persen dari total kebutuhan.

Untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, maka pemenuhan susu di dalam negeri menjadi penting dengan tujuan mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul. 

"Jadi kalau kita ingin mencetak sumber daya manusia yang unggul, susu merupakan komponen penting. Nah, strukturnya saat ini impor susu kita itu 80 persen dari kebutuhan susu nasional," ucap Budi Arie.

2. Koperasi berperan besar serap dan distribusikan hasil produksi susu lokal

Ilustrasi susu (pixabay.com/@Couleur)

Budi Arie menekankan pentingnya mencapai swasembada pangan, termasuk dalam sektor susu. Oleh karena itu, ia bertekad mengatasi  ketergantungan Indonesia pada impor susu melalui berbagai kebijakan strategis, dan peningkatan produksi susu lokal dengan mengorganisir koperasi susu.

"Koperasi dapat berperan besar dalam menyerap dan mendistribusikan hasil produksi susu lokal. Langkah ini penting untuk memperkuat kemandirian sektor susu," ujarnya.

3. Koperasi susu harus belajar mengolah susu jadi produk turunan lainnya

ilustrasi keju (pexels.com/NastyaSensei)

Pemerintah, kata Budi Arie, akan mendorong koperasi susu untuk melakukan hilirisasi produk atau mengolah susu ke produk turunan lain, seperti minuman pasteurisasi, yogurt, dan keju. 

Di sisi lain, dia menyoroti kebijakan perdagangan yang membuat Indonesia kebanjiran susu impor, yakni tarif bea masuk 0 persen terutama pada Selandia Baru dan Australia yang memanfaatkan Perjanjian Perdagangan Bebas dengan Indonesia. 

"Ini  membuat harga produk mereka setidaknya 5 persen lebih rendah dibandingkan dengan harga pengekspor produk susu global lainnya. Kedekatan mereka dengan Indonesia juga membuat harga produk susu mereka sangat kompetitif," tuturnya. 

Menurut Budi Arie, badan usaha swasta juga harus mempertimbangkan penyerapan hasil susu dari koperasi pendirian atau perorangan petanakan sapi perah dalam negeri karena terjadi perbedaan mencolok antara Indonesia dan Selandia Baru dalam hal populasi sapi perah.

Adapun populasi sapi perah di Indonesia hanya sekitar 200 ribu ekor, sedangkan Selandia Baru, dengan penduduk hanya 5,4 juta jiwa, memiliki populasi sapi perah mencapai 5 juta ekor.

"Bayangin lebih hampir sama kayak penduduknya, kita cuma ratusan ribu ekor sapi perah," kata dia.

Untuk mengatasi tantangan ini, pihaknya berencana mempercepat pendirian pabrik-pabrik pengolahan susu yang dikelola oleh koperasi. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing susu lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pada industri pengolahan susu (IPS).

4. LPDB diminta salurkan pembiayaan untuk koperasi susu sapi

Ilustrasi transaksi ekonomi. (IDN Times/Aditya Pratama)

Terkait rencana mendorong pembentukan IPS untuk meyerap susu sapi dalam negeri, Budi Arie telah memerintahkan Lembaga Pengelolaan Bantuan Dana Bergulir (LPDB) Koperasi untuk menyalurkan pembiayaan kepada koperasi-koperasi susu sapi.

Dengan ini koperasi-koperasi susu sapi ini, Budi optimistis volume dan kualitas produksi susu akan meningkat. 

“Selanjutnya Kemenkop (Kementerian Koperasi) sudah memerintahkan LPDB untuk memberikan pembiayaan koperasi susu untuk tujuan meningkatkan volume dan kualitas produksi, mendorong koperasi susu mulai memasuki hilirisasi produk susu,” tuturnya. 

Editorial Team