ilustrasi India (unsplash.com/HF)
India resmi mengaktifkan penggunaan bahan bakar alternatif sebagai langkah darurat untuk menjaga ketersediaan energi nasional. Keputusan ini diambil karena adanya hambatan pengiriman barang di Selat Hormuz, jalur laut yang sangat penting bagi pasokan minyak dan gas dunia. Pemerintah menyadari bahwa gangguan pada jalur tersebut mengharuskan sektor industri dan bisnis lebih fleksibel dalam memilih jenis bahan bakar yang digunakan.
Menteri Perminyakan dan Gas Alam, Hardeep Singh Puri, menjelaskan rencana pengalihan energi ini kepada anggota parlemen. Strategi ini sengaja dirancang agar masyarakat umum tetap menjadi prioritas utama dalam mendapatkan gas untuk memasak.
"Bahan bakar alternatif mulai digunakan untuk mengurangi beban pasokan LPG dan gas pipa. Minyak tanah kini tersedia di gerai ritel serta jalur distribusi publik, sedangkan minyak bakar dialokasikan untuk kebutuhan industri," kata Singh Puri, dilansir Livemint.
Untuk mendukung masa darurat ini, pemerintah juga melonggarkan aturan lingkungan agar penggunaan bahan bakar tertentu diperbolehkan sementara waktu. Kementerian Lingkungan Hidup, Hutan, dan Perubahan Iklim (MoEFCC) telah meminta badan pengawas di setiap negara bagian untuk mengizinkan penggunaan bahan bakar yang lebih padat asap selama masa krisis. Langkah ini diharapkan bisa mengurangi pemakaian gas elpiji di sektor usaha, sehingga stok gas yang ada bisa dialihkan sepenuhnya untuk kebutuhan rumah tangga.
Puri menekankan bahwa izin penggunaan bahan bakar seperti biomassa dan minyak tanah ini hanya berlaku sementara namun sangat mendesak.
"MoEFCC menyarankan otoritas pengendalian polusi daerah untuk mengizinkan penggunaan biomassa, pelet RDF, minyak tanah, atau batu bara sebagai bahan bakar alternatif di sektor perhotelan dan restoran selama satu bulan," ujar Singh Puri, dilansir Channel News Asia.
Walaupun kebijakan ini berisiko meningkatkan polusi, prioritas utama pemerintah saat ini adalah mencegah kelangkaan energi yang bisa melumpuhkan ekonomi. Pabrik dan industri kini didorong memakai minyak bakar sebagai pengganti gas alam agar mesin produksi tetap berjalan. Pemerintah akan terus memantau peralihan ini dengan ketat guna memastikan penggunaan bahan bakar alternatif tersebut tidak disalahgunakan dan hanya dilakukan selama krisis pasokan gas dunia belum berakhir.