Tak Mau Krisis LPG Seperti India, RI Sudah Amankan Stok dari Australia

- Pemerintah Indonesia menyiapkan strategi menjaga pasokan LPG nasional di tengah gejolak Timur Tengah yang memicu krisis energi di beberapa negara, termasuk India.
- Dari total impor 7,6 juta ton LPG, sekitar 70–75 persen berasal dari AS, 20 persen dari Timur Tengah, dan sisanya dari negara lain seperti Australia.
- Pemerintah mengalihkan sebagian kontrak LPG dari Timur Tengah ke kerja sama jangka panjang dengan AS dan Australia, dengan dua kargo baru dijadwalkan tiba pada Maret hingga April.
Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan sudah punya strategi untuk mengamankan pasokan liquefied petroleum gas (LPG) nasional di tengah gejolak di Timur Tengah.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto, Jumat (13/3/2026), Bahlil menyebut, dinamika energi dunia saat ini sangat fluktuatif, bahkan kondisi di India terpantau cukup mengkhawatirkan.
Negara tersebut tengah menghadapi krisis energi akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah. Ketegangan geopolitik yang memanas di wilayah Teluk telah menghambat jalur logistik kapal tanker, memicu kelangkaan stok.
"Memang LPG ini, sekarang di mana-mana lagi terjadi dinamika yang sangat dinamis sekali. Di India, berita pagi ini cukup mengkhawatirkan," kata Bahlil dalam laporannya.
Bahlil menjelaskan, dari total 7,6 juta ton impor LPG yang dilakukan Indonesia, sekitar 70 hingga 75 persen berasal dari Amerika Serikat (AS). Sementara itu, 20 persen dipasok dari Timur Tengah, dan sisanya didatangkan dari negara lain seperti Australia.
Merespons situasi global saat ini, pemerintah memutuskan untuk mengalihkan sebagian kontrak dari Timur Tengah ke kontrak jangka panjang dengan AS dan negara mitra lainnya.
"Dengan kondisi sekarang, yang di Middle East (Timur Tengah) kita pecah lagi untuk kita ambil kontrak jangka panjang dengan Amerika dan beberapa negara lain," ujarnya.
Atas instruksi Prabowo, Kementerian ESDM terus bersiaga untuk memastikan ketersediaan energi bagi masyarakat. Bahlil melaporkan pada akhir pekan ini, dua kargo LPG dari Australia dijadwalkan segera masuk ke Indonesia. Dua kargo tambahan akan tiba pada 28 Maret, menyusul pengiriman pada 4 dan 8 Maret 2026.
"Jadi Januari, Februari, Maret, April itu insyaallah clear," kata mantan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu.

















