Jakarta, IDN Times - Laporan dari industri manufaktur Jepang pada Rabu (18/3/2026) mengungkapkan adanya krisis pasokan bahan baku. Krisis ini dipicu oleh kebijakan pembatasan ekspor mineral oleh pemerintah China, yang akhirnya mengganggu kestabilan ekonomi dalam negeri Jepang.
Masalah ini muncul di tengah masa perundingan upah musim semi atau shunto. Akibatnya, tingginya biaya produksi membuat perusahaan kesulitan untuk menaikkan gaji para pekerjanya.
Kondisi ini mendapat perhatian resmi dari pemimpin serikat pekerja logam dan mesin Jepang, yang menyoroti susahnya mendapatkan bahan baku tanah jarang (rare earth) untuk pembuatan komponen teknologi canggih. Mahalnya biaya pembelian bahan baku ini membuat keuntungan perusahaan menurun drastis.
Hal tersebut kini menjadi hambatan utama bagi perusahaan kecil untuk memenuhi tuntutan kenaikan upah, apalagi di tengah inflasi yang sedang melanda pasar tenaga kerja Jepang.
