Bendera Amerika Serikat dan China melambangkan ketegangan perang dagang antara kedua negara. (Pexels/Karola G) )
Uni Eropa tengah menghadapi penurunan kinerja industri akibat meningkatnya kompetisi dari China dan Amerika Serikat (AS), yang didorong oleh kebijakan subsidi besar-besaran serta penerapan tarif bea cukai tinggi. Sektor-sektor energi intensif seperti baja dan semen menjadi yang paling terdampak, karena biaya produksi yang tinggi disertai dengan permintaan pasar yang menurun.
Laporan yang disusun oleh mantan Presiden Bank Sentral Eropa, Mario Draghi, memperingatkan bahwa tanpa tindakan cepat dan tepat, industri Eropa berisiko mengalami kematian lambat. Kondisi ini menuntut langkah kebijakan yang lebih agresif untuk melindungi daya saing dan memperkuat kapasitas produksi di dalam negeri.
Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa asal Prancis, Stéphane Séjourné, menegaskan bahwa perubahan hubungan ekonomi global menempatkan Eropa pada posisi sulit.
“Kembalinya pola ekonomi berbasis kekuatan melalui tarif, subsidi besar, dan kompetisi tidak adil membuat Eropa harus memilih memperkuat kebijakan industri yang ambisius dan realistis, atau menerima pengikisan bertahap basis industrinya,” tulis Séjourné dalam surat kepada para pemimpin industri, dikutip Euronews.
Defisit perdagangan Uni Eropa dengan China juga mencapai sekitar 350 miliar euro (Rp6,8 kuadriliun) pada tahun 2025, memperkuat urgensi adopsi kebijakan proteksi dan dukungan domestik untuk menjaga keberlanjutan industri kawasan tersebut.